Baitul Kilmah Menyambut Hari Santri

  • Bagikan

Oleh: Septianah Irmalita Wulandari

Sambut hari santri, pesantren kreatif Baitul Kilmah Terbitkan 9 buku dari santri.

Peringatan hari santri nasional jum’at, 22 Oktober 2021 di pondok pesantren kreatif Baitul Kilmah berlangsung dengan kesan yang berbeda-beda dari setiap perserta yang ikut memeriahkannya, walaupun hanya dengan melaksanakan upacara bendera seperti pada umumnya, tetapi makna dari hari santri itu sendiri telah bertaut di dalam jiwa para santri.

“Memang kita harus mewarisi semangat juang yang telah digagas oleh para kyai dan ulama’, bila pada saat itu KH.Hasyim Asy’ari dengan kesadaran diri untuk membangkitkan kembali semangat melawan penjajah, yaitu dengan mengerahkan patriot para santrinya untuk melawan NICA maka kita selaku santri juga harus turut berjuang, bukan berarti kita juga harus berperang, tetapi kita harus menyerahkan segala kemampuan diri kita untuk negara dengan niat lillahita’ala. Salam santri bertumbuh, berdaya, dan berkarya”.

Sepenggal pesan yang disampaikan KH.Aguk Irawan MN pengasuh pondok pesantren kreatif Baitul Kilmah dalam amanat upacara. Beliau juga mengungkapkan rasa harunya pada saat ikrar santri dibacakan.

Dengan suara yang begitu menggetarkan hati, salah satu santri membacakan do’a dalam proses upacara hingga beberapa orang sesekali meneteskan air mata. Tak lepas dari itu lurah pondok pun ikut mengapresiasi arti dari hakikat hari santri ini sendiri.

“Selain kita menekankan dalam hal literasi dan kreatifitas, kita juga harus menanamkan rasa nasionalisme pada diri setiap santri Baitul Kilmah salah satunya juga lewat upacara seperti ini”.

Kemudian muncul juga pendapat dari salah satu santriwati Baitul Kilmah yaitu mbak Septi indriyani, beliau berpendapat bahwa peringatan hari santri nasional ini sebagai bentuk penghargaan kepada beliau para santri terdahulu yang telah berkontribusi dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Mengingat perjuangan para ulama’, kyai dan santri terdahulu perlu kita sadari bersama bahwa kita adalah penerus juang mereka, tak hanya terhenti menjadi santri yang tawadhu’ terhadap kyai, bisa membaca kitab dan lain-lain. Kita juga harus mengembangkan literasi dalam dunia pesantren, meningkatkan minat baca para santri, menulis beberapa karangan-karangan buku yang nantinya bisa dinikmati oleh kalangan santri dan juga umum.

Seperti yang diterapkan oleh pondok pesantren kreatif Baitul Kilmah, peringatan hari santri nasional tidak hanya melaksanakan upacara bendera saja namun para santri Baitul Kilmah mampu mempersembahkan sembilan karya yang menginspirasi, diantaranya adalah “Zona Rasa” Karya Ahmad Kafi. Di sesi akhir pada saat beliau memaparkan sinopsis karyanya beliau berkata kepada para santri bahwa penderitaan juga bagian dari zona rasa yang lantas mengundang tepukan tangan dari para santri.

Beberapa karya yang berhasil launching juga banyak yang bergenre islami seperti, “KH.Ayip Abdullah Abbas” Ulama’ nyentrik perangkul kaum marginal marginal karya Aziz Naviel Malakian, “Tarekat Syadziliyah Al-mas’udiyah” Karya Septi Indriyani, “KH.Muntaha Al-hafidz” Penjaga ayat-ayat langit karya Anisa Fauziah Aziz, “Paradoksikal hikmah” Kumpulan esai karya Muhammad Aqib Khoirunnuha, “Akibat Perceraian” rekonstruksi pelaksanaan pembayaran nafkah ‘iddah dan mut’ah karya Muhammad Qosim. Juga karya berjudul “Si kecil yang tabah” Karya Ahmad Usfurul Jinan” Yang menceritakan tentang perjuangan.

Selain itu ada juga satu buku yang di dalamnya terdapat kumpulan beberapa cerpen karya para santri ketika kegiatan diskusi karya season 8 yang dilakukan pada malam jum’at di pondok pesantren Baitul Kilmah yang diberi judul “Memoar Senyum Bapak”.

Gebyar karya yang dipersembahkan khusus untuk hari santri nasional ini semata-mata untuk tabarrukan, pengabdian kepada pesantren, bangsa dan juga utamanya hanya untuk mengais ridho Allah semata.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *