Wung Ahma

  • Bagikan

Oleh: Ulil Absor

Di puncak gunung gersang telah kusiram kisah dan untaian kasih. Gadis Lingling bakul angkringan terlelap dalam kursi angkringan sedang kepalanya tersandar pada gerobak. Siang ini gadis ajaib itu begitu bergasnya berkat istirahat yang cukup, bermain-mainlah dia dengan kadal gunung liar.

Masih begitu tangkas bocah tersebut. Sayang gadis berambut pirang bermata sipit tak pernah dapat mengejar kadal gunung itu, ia selalu ketinggalan beberapa langkah dan semakin ia cepat mengejar semakin cepat pula kadal itu berlari. Kadal melesat ke kanan gadis melesat ke kanan, kadal serong ke kiri anak delapan tahunan itu serong ke kiri pula, walau kadal sudah kembali melesat kearah kanan.

Sekarang berlari kedepan. Datang seorang bocah, hap. Gagal tertangkap. Si warna coklat telah putar arah pelarian.

Jangan-jangan dia bukan kadal biasa, ia selalu tak terkejar, tercapai dan tiada lain kecuali mempercepat laju larinya. Kecepatan kaki kecilnya untuk menunjukkan bahwa dirinya tak terjangkau. Sepertinya ia kakak gadis yang merantau namun lagi kangen-kangennya, kakak yang pulang sementara rindu kejar-kejaran dengan sang adik namun menyamar sebagai kadal gunung.

Kubiarkan kadal itu dan seorang pemburunya berlari-larian mengitari gunung yang terkadang rawan juga digunakan sarana tempat bermain gadis kecil.

“Bila ia berhasil menangkap kadal itu, berarti berhasil pula kadal itu melampiaskan rasa kangen pada adiknya.” Batinku.

Tiba-tiba dalam pikiranku terbesit kata-kata tersebut yang kali ke sekian telah kudengar dulu waktu pengembaraanku kandas di Dusun Ahma. Nama dusun itu sebenarnya adalah Brahma, di sekelilingnya banyak tumbuh serai wangi yang menjadi komoditas penduduk lokal hingga bisa diekspor ke luar negeri. Rumpun dan lambaian flora tersebut sangat menyejukkan mata, menyegarkan fikiran tiap orang yang memandangnya, ditanam bertingkat ketika dilihat dari atas puncak gunung.

Oleh anak-anak perempuan seusia gadis di kampung, Dusun Ahma dikira adalah Gunung Bromo, karena anak-anak tau asal nama Bromo adalah Brahma, tapi mereka lebih suka lagi memelesetkan namanya jadi nama pesinden kondang Lusi Brahma jika nama itu memang adalah nama aslinya. Penduduk dusun yang hanya berisi sekitar empatpuluhan KK, sepakat untuk menamakan gunung itu dengan sebutan Ahma untuk menghindari pelesetan-pelesetan dari kalangan milenial kreatif.

Kemanakah perginnya bocah-bocah dan kalangan kreatif millenial ketika kreatifitas dan keusilan itu diperlukan?

Mereka tidak pergi, mereka hanya masih termenung sejak mendapat dongeng dari sesepuh dusun tentang ilmu primbon, semacam kolaborasi antara ilmu sains dan fiksi, yakni ketika rata-rata orang yang kelahiran pada mangsa kanem selalu dalam hidupnya bisa diprediksi sering mengalami sakit gigi. Orang yang mempunyai track record di partai politik ingin menjadi ketua Ormas keagamaan, belum tentu ia dengan mudah jadi secara politis, ya karena dalam pemilihan ketua Ormas keagamaan juga dipengaruhi unsur politik.

Bukan berarti jika melemahkan lawan politik bakal menjadi persaingan menjadi ringan, bisa saja lawan politik yang lain malah berkolaborasi membangun kekuatan baru.

Kabar baiknya salah satu calon kepala desa Ahma mengundurkan diri dari panggung pemilihan dan memilih menikmati hidup menjadi peternak ayam. Ayam bangkok pilihannya. Jika dulu ayam bangkok selalu dijadikan andalan saat sabung ayam. sekarang tidak, ayam bangkok sekarang lebih suka beradu kluruk daripada beradu fisik. Ayam bangkok sering berkonsultasi dengan burung kenari untuk mendapatkan suara yang merdu dan unik, karena para ayam sekarang sudah pintar, untuk mengalahkan lawan tak perlu dengan kekuatan fisik yang sempurna, cukup disihir dengan kata-kata dan suara yang indah maka sudah jelas akan menjadi pemenang dalam kontes menarik perhatian sipil.

Karena selera seni yang tinggi, bahkan ayam-ayam sekarang tak hanya jago berkeluruk serta berkicau, ayam bangkok sekarang sudah mulai pandai bicara dan menyanyi tembang kenangan, digubahnya semacam lagu :

Pagi ini hujan turun lagi

Malam juga sering kurasa

Hujan turun tak menentu

Tapi tentu kau bingung dengan nyanyiku

Kini calon kepala desa yang mengundurkan diri itu mati suri di usia 76 tahun, terhitung sejak empatpuluh hari pengembaraanku kandas di Gunung  Ahma. Kisah yang diceritakan Ibu Gadis Lingling yang sebelum ia pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan angkringan.  Kisah yang juga diceritakan orang-orang ketika di pasar dan di sawah ialah tentang mati surinya, bangun dua pekan kemudian. Ayam bangkok yang sudah pandai menyanyi kini kembali pada tabiat bertarung layaknya ayam pada umumnya.

Teriak Gadis Lingling kepadaku, “Hampir saja aku berhasil mengejar kadal itu, dan kadal itu hampir saja menangkapku. Bukankah itu pertanda takdir berpihak padaku? Bukankah itu indah daripada kau yang malah menangkap aku Wung!!!???”

Ayam Bangkok menyalakan Toa masjid dusun, membuat semacam panggung, memberi pengumuman agar warga dusun segera berkumpul dan melantunkan tembang :

“Yang, hujan turun lagi

Di bawah payung hitam kuberlindung

Yang, ingatkah kau padaku?

Di jalan ini dulu kita berdua…”

 

Yogyakarta, 2021

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *