Apakah Rumah Kita Akan Tenggelam?

  • Bagikan
alt"ilustrator: Yasir Max Style"

Oleh: Anas S Malo

Aku hanya diam tak bersuara. Ibu menyapa, aku tetap diam. Hanya bisa menganggukkan kepala, menggeleng kepala. Subuh tadi, air sudah masuk ke dalam rumah, karena hujan deras, berjam-jam mengguyur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bengawan Solo selalu meluap, di musim hujan.

Desaku menjadi titik rawan banjir, dari Klaten sampai ke Cepu dan meluapkan di sebagian wilayah Bojonegoro. Sebagian dari warga sudah mengungsi satu hari sebelum banjir datang. Sebagian masih tetap berada di rumah masing-masing. Selepas salat subuh, ayah mengeluarkan air di dalam rumah dibantu ibu yang hamil 5 bulan. Memeriksa beberapa ruangan, dan mengangkat beberapa barang yang perlu diamankan.

Ibu datang ke kamarku, berjalan agak kepayahan. Perutnya menggembung. Ia menengokku dari pintu. Aku sudah bangun sejak azan subuh menggema di langgar kanan jalan. Ia masuk kamar, memeriksa keadaanku. Membuka gorden berwarna biru. Dari jendela, aku bisa melihat kepungan air merata di sekitar rumah. Lalu jendela itu dibuka. Hawa dingin masuk ke dalam kamar. Malam sudah berangsur-angsur memudar. Suara ayam dan kambing terdengar. Suara riak air terdengar dari di ruang tamu, ketika ayah menguras air dari dalam rumah.

Beberapa perabotan rumah mengapung—sandal, baskom, kain. Air menjadikan dalam rumah dingin. Di bawah kolom ranjang air menggenang. Sepasang sandal mengapung. Sementara, suara riak air masih terdengar dari dalam ruang tamu, ketika ayah masih sibuk mengurasnya. Aku bangkit dari ranjang, lalu ke luar dari kamar. Dapat kupastikan, sekolah akan libur. Ruang kelasku pasti tergenang air.

Beberapa relawan membantu warga, dengan berbagai bantuan berupa makanan dan keperluan-keperluan lain. Ayah dan ibu bersusah payah untuk mengeluarkan air dari dalam rumah. Aku masih di balik jendela, melihat kepungan air di sekitar rumah. Sepagi ini, langit masih murung bercampur mendung menggumpal, diiringi suara-suara guntur rendah. Tentu saja ini tanda, hujan akan turun kembali.

Lek Marsam menuntun sapi dan beberapa kambing untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Sebagian orang-orang menitipkan ternaknya ke tempat saudaranya yang terhindar dari genangan air. Lalu, orang-orang akan mengungsi di balai desa.

***

Ada raut wajah yang kecewa. Ayah baru saja melihat kondisi sawah yang dihantam banjir. Tanggul irigasi jebol. Padi yang hanya butuh sepuluh hari untuk di panen, sudah tidak bisa tertolong. Demikian pula dengan tanaman padi ayah yang tidak bisa terselamatkan. Gagal panen kembali mengancam. Ia duduk di amben teras. Aku tidak berani menyapa. Ibu datang membawa kopi.

“Sudahlah, ikhlaskan saja. Mungkin itu bukan rezeki kita. Mungkin ini cobaan dari Allah,” ucap Ibu. Ayah menarik napas panjang, seperti meringankan beban yang ada di dada. Terkadang hal yang paling sulit itu adalah menyadari bahwa ini hanyalah titipan, kata ibu, mencoba menenangkan.

“Ibu tahu, nanti atau besok lusa kita makan apa?” keluh ayah.

 

“Seekor cecak saja hidupnya hanya menempel di dinding, sedangkan mangsanya bisa terbang ke mana pun yang mereka inginkan, tapi tidak ada cecak yang mati kelaparan. Jangan khawatir, rezeki sudah ada yang mengatur,” tutur Ibu.

Sementara gemerencik air hujan tumpah. Air mengetuk-ngetuk atap. Pagi menjelang siang, matahari tidak tampak. “Hujan adalah perwujudan dari nikmat Tuhan bagi alam,” kata ibu. Sebisaku menangkapnya. Namun, dalam keadaan diterangkan secara terperinci, aku baru bisa paham. Kemudian, aku menduga, bahwa air merupakan sumber kehidupan. Mungkin dugaanku ini tidak salah, karena banyak contoh yang bisa aku temukan. Ya, contoh yang melekat yaitu aku minum air setiap hari 8 gelas. Itu menandakan, apa yang diucapkan ibu benar adanya.

Hujan turun dengan deras. Petir mengamuk. Pohon randu di belakang rumah menjadi sambarannya. Suara begitu mengentak. Langit gelap. Hujan ini benar-benar menakutkan. Aku lihat ibu memegang dadanya. Wajahnya pucat sambil meringis kesakitan. Semakin lama semakin lemas. Ia duduk di ranjang ruang tamu. Lampu padam. Semakin lama semakin air sudah masuk ke dalam rumah. Hujan seperti tak ada ujungnya. Aku mendekatinya dengan penasaran penuh. Ia lemas tak berdaya. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi tidak ada reaksi apa pun. Jantungku berdegup kencang.

Aku memanggil ayah dengan suara jeritan yang tidak jelas di tengah-tengah gemuruh hujan. Ayah bergegas menuju ruang tamu secepat kilat, membawa wajah panik. Hari ini, air hujan dan air mata bercampur menjadi kesedihan, kegetiran dan semua hal yang tidak menyenangkan mengendap di rumah ini. Apakah rumah ini akan tenggelam bersama semua itu?

Untuk sesaat, aku hanya bisa menelan ludah. Mataku memanas dan darahku seperti berhenti mengalir. Setelah itu, air mataku mengalir. Demikian pula ayah yang meraung-raung memilukan, diselingi suara petir. Aku tidak tega melihatnya. Dan ini adalah keadaan yang paling sulit selama hidupku.

Di tengah kepungan air, dan hujan lebat aku menerobosnya dengan susah payah. Aku ke rumah Lek Marsam untuk meminta pertolongan. Ia berusaha untuk menenangkanku. Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan bahasa isyarat. Dan, sepertinya ia paham. Ia bergegas menuju rumahku. Aku menguntit dari belakang. Kemudian, ia langsung berlari menyusuri banjir menuju langgar untuk mengumumkan lewat pengeras suara. Suara itu samar bersama gemuruh hujan. Meskipun begitu beberapa orang berdatangan ke rumahku untuk melihat mayat ibuku.

Orang-orang bertanya-tanya ada apa dengan ibu. Ayah dengan sesenggukan, menjelaskan, bahwa ibu punya riwayat penyakit jantung. Mungkin saja, ketika petir menyambar pohon randu di belakang rumah, ia kaget dan penyakit jantungnya kumat.

Hujan reda. Orang-orang mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman ibu. Meski hujan telah reda, jalanan masih terendam banjir. Kali ini, banjir hanya mencapai lutut orang dewasa. Yang menjadi persoalan sekarang adalah beberapa area pemakaman terendam air. Tentu saja, ini akan menyulitkan para penggali kubur untuk menggali liang lahat. Orang-orang, terutama ayah yang berusaha tegar pemikiran pemakaman ibu.

Pepunden desa memberikan saran, agar pemakaman ibu ditempatkan di daerah yang tidak tergenang air. Dengan kata lain, pemakaman akan ditempatkan di daerah dataran tinggi. Itu berarti di sebelah utara desa, melewati hutan jati dan nantinya akan mendapati padang gembala yang luas.

“Pemakaman harus cepat dilaksanakan, biar tidak berlarut-larut, apalagi sebentar lagi matahari akan tenggelam,” ucap pepunden desa.

***

Setelah pemakaman ibu selesai dilakukan beberapa hari yang lalu, ayah dan aku sering berziarah ke pemakaman ibu. Ada gundukan tanah bernisan dua kayu jati menghadap ke utara. Sementara, di tempat ini, aku menemukan padang gembala yang luas. Sejuk dan gunung-gunung berbaris indah, tetapi ada perasaan khawatir. Entahlah.

Apakah kuburan ibu aman? Ucapku dalam hati. Aku khawatir jika suatu saat nanti, tempat ini akan menjadi pertambangan minyak seperti di tempat-tempat yang lain. Aku takut makam ibu akan terbengkalai, bahkan bisa saja akan digusur. Dan, tidak ada lagi persemayaman terakhir ibu saat aku ingin sekadar menyambangi kuburan ibu. Ibu sudah tiada, apakah kuburan ibu juga akan demikian?

 

Yogyakarta, 2021

Karya ini pernah dipublikasikan di Harian Fajar Makassar.

 

Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro

Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) & Diskusi Karya Baitul Kilmah

Belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta

Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Peraih juara 1 Sayembara Cerpen Pendidikan Kementerian Agama Kabupaten Sleman 2018.  Finalis National Community Investors Award 2018. Antologi cerpennya  diterbitkan Belibis Pustaka yang berjudul Si Penembak Jitu 2020.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *