Melodi-Melodi Khali

  • Bagikan

Tidak melulu tentang cara bahagia, karena dengan terus mencari, siapapun tak akan berada di posisi itu. Bahagia itu keputusan. Detik ini pun bisa digapai. Meski keadaan sulit dan sempit, masih banyak hal mudah dan luas yang bisa diingat untuk mencapai bahagia.

***

Kian pekat perpaduan awan hitam kelabu di sekeliling bulan yang sepertinya enggan menampakkan paras rupawannya. Alunan nada tenang juga begitu hangat terdengar oleh pemilik lirik-lirik pemenuh nada itu sendiri. Dalam ruangan kosong tanpa ada tiang, ranjang, meja, ataupun benda lain di dalamnya. Ruangan ber penerangan lampu kuning redup ini terasa dingin tanpa alas penopang kedinginan yang merambat dari ubin.

Terlihat seorang pria berparas muda tengah bergelut dengan elegi melodi yang tuntas meraba matanya hingga berkaca-kaca. Sayangnya, alunan itu hanya bisa didengar oleh telinga orang-orang terdekat dan sekitar saja. Bukan seperti musikus pada umumnya yang lagunya dapat dinikmati di aplikasi musik tanpa harus bertemu raganya, musikus yang satu ini justru menghindari ketenaran, keramaian dan apapun itu yang berbau kerumunan.

Punta namanya, bergelar musikus untuk dirinya sendiri. Seorang pemilik warung kopi tongkrongan anak muda di depan rumah kontrakannya sendiri ini mengaku sangat cukup hanya dengan penghasilan yang ia dapat dari laba warung kopi. Tak seperti anak muda lain, waktunya lebih banyak habis untuk menyepi, apalagi di kala tengah malam.

Pengagum elemen kuning yang berhasil menikam jiwanya menjadi seorang introver. Kuning memang dipercaya sebagai warna astral yang menyatu dengan tangga nada E atau orang biasa menyebutnya tangga nada Do yang mempunyai kemampuan dapat menanggulangi depresi seseorang. Punta seorang introver, namun sisi lunglai pada sayu matanya tak pernah nampak, mungkin karena instrumen nada yang kerap menghadang kerut kesedihan pada mimik wajahnya. Dia pendiam yang terlihat bahagia dan nyaman.

Dalam sepi, ia selalu mencari sumber lirik-lirik dan tangga nada yang nantinya akan ia nikmati sendiri. Sesekali ia memainkan gitar tuanya di sela menunggui warung kopi. Di belakang kasir, masih tenggelam, tertutup dan tak pernah berniat memampang diri. Tak banyak dari pengunjung warkop miliknya adalah temannya sendiri. Tak mungkin mereka bendung, kala melodi elok menelisik tanpa instruksi. Darah muda mereka merasa dipanggil untuk menemukan sumber melodi yang tertangkap oleh gendang telinga.

“Ta, teman-teman mau tau lirik lagunya tuh”. Ujar Dasa, salah satu orang yang memutuskan mau berteman dengan seorang introver seperti Punta.

“Oh, kalau kalian pengen dengerin musik aku punya rekomendasi album yang cocok buat kalian”. Jawab Punta mengalihkan.

“Tapi kami mau tau lirik lagu yang baru saja kamu nyanyikan, Dasa sering cerita sama kami kalau kamu punya lagu-lagu karangan sendiri”. Ujar salah seorang dari teman Dasa menanggapi kilah dari Punta.

Entah sudah terhitung untuk berapa kalinya usaha Dasa tak kunjung membuahkan hasil. Juga kelimun anak muda itu juga pasti tertimpa pengelakkan dari Punta. Bukan tentang sikap sombong yang tak mau memberi lirik-lirik ciptaannya kepada mereka. Namun, beberapa resiko mungkin telah ia pertimbangkan untuk keputusan tidak mempublikasikan lagunya itu.

“Kenapa sih kamu selalu mengelak saat mereka ingin tahu lirik-lirik yang kamu buat?”.

Tanya Dasa selepas teman-temannya kembali ke tempat lesehan semula.

“Aku bermain musik untuk mencari ketenangan, bukan ketenaran. Mungkin kamu masih ingat kejadian yang menimpa keluargaku kala itu. Jujur aku belum bisa melupakan trauma itu begitu saja, tapi aku masih berusaha mengendalikan diri saat  ingatkan itu membawaku kembali ke masa lalu yang mengecewakan itu. Aku adalah apa yang aku dengar. Ketika aku mendengarkan musikku sendiri, aku membawa diriku untuk kembali yakin dengan apa yang sekarang ada di dalam diriku. Bunyi memang tak menjelaskan siapa aku, tapi bunyi lamat-lamat menyingkapkan apa yang telah terselubung dari diriku”.

“Jadi, kamu mau aku menanggapi yang bagaimana?”. Tanya Dasa seakan masih menunjukkan raut kecewa dengan sikap Punta.

“Aku tak ingin kamu menanggapi apapun, hanya saja aku ingin kamu tahu bahwa selain aku menghindari resiko mempublikasikan musikku itu, tujuan utama hanyalah untuk menghargai seni terutama musik agar tidak melulu diapresiasi dengan materi”. Setidaknya penjelasan Punta bisa membuat Dasa diam dan tak lagi memaksa.

***

Satu jam setelah membersihkan tubuhnya, ia memenuhi lambaian ruang kosong yang terus mengelabuinya, menyuruhnya agar segera masuk dan bersemayam di sana. Baru saja ia letakkan, kemana hilangnya gitar tua miliknya. Dengan waktu satu jam saja ia biarkan di dalam ruangan itu, namun sekarang sudah tak ada tanda-tandanya sama sekali. Layaknya seseorang yang sedang ditinggal pergi kekasihnya, bagaimana mungkin Punta bisa bersikap tenang, dan tak mencari, ruangan itu benar-benar kosong. Tak ada sudut yang tertutup oleh benda apapun. Memang semestinya tak perlu mencari di ruangan itu, karena jelas kasat tak ada apa-apa. Ia beralih ke ruang tengah kontrakannya. Rumah minimalis ini tidak akan menghabiskan tenaga Punta untuk menyusuri semua sudutnya.

Kontrakan itu ia sewa ketika ia memutuskan untuk menjual rumah almarhum Ayahnya. Bukan berniat sewenang-wenang, namun ia ingin mempunyai usaha dari hasil penjualan rumah tersebut untuk melanjutkan hidupnya. Punta seharusnya masih remaja yang belajar di bangku sekolah. Waktu itu kelas tiga SMA. Namun, sekolahnya harus lepas. Dia benar-benar sebatang kara ketika Ayahnya meninggal setelah lbunya pergi lepas bercerai.

Sudah terhitung 2 jam ia mencari gitar tua itu. Namun tak juga membuahkan hasil. Gitarnya telah tiada. Tetapi ia merasa janggal dengan ketiadaan gitar itu secara tiba-tiba. Tak ada yang mengetahui letak gitar itu, bahkan tentang ruangan kosong itu. Namun setelah ia ingat-ingat sendiri, ada satu orang lagi yang tau tentang keberadaan ruangan kosong itu.

“Das, gitarku hilang”. Ucap Punta singkat, bercerita kepada Dasa yang mampir ke warkopnya setelah pulang kerja.

“Bagaimana ceritanya kok bisa hilang?”.

“Entahlah, semua terasa tidak wajar saja menurutku”.

“Coba ceritakan padaku bagaimana kronologinya”.

“Tidak perlu, Das, sudahlah tidak begitu penting juga”.

“Aku punya tawaran bermain musik untukmu, kamu bisa bergabung di sebuah grup musik, mereka sedang mencari personil, di sana nanti kamu tidak perlu membeli gitar baru, malah komisinya bisa untuk beli gitar yang lebih bagus dan alat musik lainnya”. Tawaran yang sama namun dengan nuansa yang agak sedikit berbeda kembali Dasa sodorkan kepada karibnya. Benar saja dia hanya seorang pekerja proyek, namun relasinya begitu luas hingga membungkus info-info dunia permusikan yang tak kunjung habis.

“Sepertinya masih sama, aku belum tertarik untuk berkecimpung ke dalam musik yang penuh ketenaran”.

“Kamu ini gimana sih, ada kesempatan malah di sia-siakan, belum tentu orang lain bisa dapat ini, jangan sok kaya kamu!”. Cerca Dasa kepada Punta.

“Ya sudahlah, terserah kamu mau menilai ku bagaimana, meskipun aku tak pernah punya penghasilan yang banyak, setidaknya hari-hariku tidak pernah kekurangan dan merepotkan orang lain itu sudah melebihi cukup menurutku”.

“Lalu dengan hilangnya gitar itu kamu akan berhenti dengan musikmu? “.

“Mengapa berhenti? gitar itu hanya properti, menurutku musik itu bagian paling subtil dari seni. Namun, dampaknya begitu kentara pada pusat fisik dan syaraf. Nadanya bisa ku petik dari nurani, dan liriknya bisa ku tuang dari jiwa”.

Dasa beranjak, tanpa sempat meminum kopi buatan Punta yang ada di depannya. Punta masih mematung, tak bertanya ataupun mencegah kepergian Dasa.

Ini sudah terhitung hari ketiga setelah perdebatan itu, Dasa tak lagi menampakkan dirinya di warkop Punta. Namun, Punta hanya beranggapan mungkin saja Dasa sedang sibuksibuk dengan pekerjaannya.

Jarum jam menunjukkan pukul dua belas, Punta segera menutup warkopnya setelah pelanggan terakhir meninggalkan tempat. Ketika sampai kontrakan, pintu yang pertama dibuka setelah pintu depan pasti pintu ruangan kosong itu. Punta menyalakan lampu kuning redup, menampakkan kekosongan, dan benda itu, ia kembali lagi, kembali tanpa Punta yang memintameminta. Punta menghampirinya, menemukan selipan kertas di sela senar gitar, ia buka lalu baca setiap kalimatnya. Sebenarnya Punta sudah mengira kalau gitar itu ada pada karibnya sendiri. Pasalnya, yang tau letak gitar dan ruangan itu hanya dia dan karibnya itu.

Pagi buta, ia sengaja duduk di luar, menunggu Dasa lewat. Dasa seorang pekerja proyek yang cukup gia. Lokasi kerjanya lumayan jauh membuat ia selalu berangkat dini hari membuat Punta pun tak selalu melihatnya ketika berangkat.

“Dasa, tunggu”. Panggil Punta kepada Dasa. Dasa tak menghindar, hanya saja ia terus menundukkan kepala, ia merasa sangat bersalah kepada Punta.

“Tak usah menunduk seperti itu, aku tak ingin kamu menjauh karena ini. Aku mengenalmu sejauh ini, tak mungkin hanya dengan satu perbuatan saja aku melupakan semua kebaikan, waktu dan segala yang pernah kamu luangkan untukku”.

“Aku tidak tahu ingin berkata apa, aku tak cukup matang untuk berpikir sebelum bertindak. Tapi percayalah, tak ada sedikitpun perasaan ingin menjatuhkanmu”.

“Ya sudah, nanti pulang kerja mampir lagi ya, jangan sampai lupa, sudah tiga hari nggak pernah mampir”. Ucap Punta sambil menepuk-nepuk pundak Dasa.

Keputusan Punta untuk memaafkan Dasa membuatnya kembali nyenyak dalam tidur malamnya, kembali tenang dalam imajinasi lirik-lirik liarnya, ia menjadikan karibnya sebagai oktaf dari instrumen musik yang hadir saat masa penumbuhan kesadaran, ketenangan, juga kedamaian dalam dirinya sedang berlangsung. Terapi musiknya mungkin lebih bisa ia kontrol untuk benar-benar menjadi musik pribadi yang utuh.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *