Orang Alim dan Kepriwe Tho Koé?

  • Bagikan

Bila engkau sendiri di kamarmu yang gelap, apa yang lebih dominan —terbesit di pikiranmu— yang akan kau lakukan; ibadah, atau maksiat? Bila sedang dalam kerumun dan keramaian orang, apa yang lebih —di dalam pikirmu—akan kau lakukan; melakukan maksiat, atau bercitra diri dengan menampakkan kebaikanmu saat sedang dalam keadaan itu saja?

Bagaimanapun jawabanmu, saya tidak peduli. Mengurus, me-nyolah, memperbaiki dan men-tahsin diri saya sendiri pun aku belum bisa. Mengapa lantas saya harus mencitrakan diri agar kalian mau menuruti saya, lantas saya mendapat predikat orang “‘alim” dari kalian? Naudzubillah. Wal ‘iyadu billah.

Sebab dari kerakusanmu mendapat pujian dan sanjungan manusia, kecewalah hatimu nanti. Berat itu rasa kecewanya. Sebab itu, dibutuhkan ke-legowoan dari hati yang sudah menyamudra dan membumi untuk me-nyolah dan memperbaiki orang banyak. Dalam istilahnya, menjadi ulama’. Ulama’ itu luas. Maknanya tidak sempit dan cupet. Beberapa hari kemarin, saya ngaji kitab Minhajul ‘Abidin karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali kepada Yai Aguk.

Di sana, Imam Ghozali mengutip salah satu hadist Kanjeng Nabi Muhammad SAW: ان فضل العالم على العابد كفضلي على ادنى رجل من امتي (Sesungguhnya (perumpamaan) keutamaan orang ‘alim (orang yang pandai ilmu agama dengan ahli ibadah itu seperti keutamaanku dengan laki-laki yang paling rendah (derajatnya) dari umatku.)

Yai kemudian mengajukan sebuah pertanyaan kepada kami yang ikut mengaji: “Lalu bagaimana ciri-ciri orang ‘alim yang dimaksud dalam hadist tersebut? Apa orang yang ahli dalam ilmu saja? Berarti derajat kaum orientalis lebih tinggi dari kita, orang awam? Jelas tidak, bukan?

Orang ‘alim adalah orang yang secara perilaku dan sikapnya persis seperti ucapannya. Perbuatannya sekata dan seiya dengan ucapannya. Guna apa banyak ilmu kalau tingkah dan laku masih macam hewan? Justru semakin bahaya. Dalam nadhom Zubad karya Ibnu Ruslan disebut: فعالم بعلمه لن يعملن # معذب من قبل عباد الوثن. (Orang ‘alim yang tidak mengamalkan ilmunya # akan diazab sebelum penyembah berhala). اللهم اجعلنا من العاملين، ووفقنا للخير (Ya Tuhan, jadikanlah kami orang-orang yang mengamalkan ilmu-ilmu kami, dan berilah kami pertolongan untuk selalu berbuat baik.)

Maka dari itu, terka-terka dulu kapasitas dirimu. Katakan, saya di bidang pertanian, seyogianya saya mengajar di bidang itu. Mengajak orang untuk sama-sama bertani dan menghasilkan uang. Nantinya, uang hasil panen didarmabaktikan untuk kemaslahatan umat. Itu masya Allah. Jadi ketahui dulu dirimu. Perbaiki dulu apa yang akan diajarkan pada umat. اصلح نفسك يصلح لك الناس.  (Perbaiki dulu dirimu, nanti manusia akan membaikimu).

Sama seperti ketika saya bilang: “Lhawong koé ki nyengit karo wong, kok njalok diapiki wong? (Kamu aja jahat sama orang, kok minta dibaiki orang?) Kepriwe to kue iki?, sebuah bahasa Ngapak yang sedikit saya ketahui. Artinya: “Bagaimana to kamu ini?

Misal, Doyok selalu dijahati Mardi. Di-ghibahin terus-terusan, difitnah, dan lain-lain. Suatu hari, Doyok bilang pada saya: “Aku tidak punya alasan untuk membaiki Mardi, Mas.”

Saya tidak menimpali sambatnya. Takut menyinggung perasaannya. Karena saya pun masih abal-abal.

Beberapa hari, saya baca quotes Gus Dur di instagram: “Jika kamu tidak punya alasan untuk menyayangi orang lain, maka cukuplah ia sebagai hamba Tuhan, sama sepertimu, yang kau jadikan alasan.” Iya, benar. Tapi sulit sekali untuk merealisasikannya.

Lalu ada konsep: Bila kita temukan orang jahat, maka bencilah sikapnya, jangan orangnya. Aduh. Sulit sekali menjadi manusia seperti itu, bukan? Tapi apa salahnya belajar. Pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Step by step. Insya Allah bisa kok. Yuk bisa yuk.

Dan di antara keajaiban adalah, hati manusia, kadang secepat kilat dan semudah membalik telapak tangan, bisa berubah dan goyah dari keyakinannya. Termasuk hatiku, yang tiba-tiba menulis tulisan ini. Ah, entah. Mengapa tiba-tiba ngelantur dan menyimpang dari pembahasan? Maafin. L

Aqib Muhammad Kh

Sabtu, 16 April 2022

Lampu Merah Kasongan:

Jalanan Semalam-malam

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *