Kalau Mentalmu Sedang Down, Wala Taiasu!

  • Bagikan

Pieper dan Uden mengatakan: “Mental adalah kondisi di mana seseorang mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan baik.” Singkatnya, seseorang mampu atau sudah selesai dengan kesejahteraan dan kebahagiaan secara individu; mampu mengatasi masalah dengan baik dan bijak.

 

Mental bukan itu soal individual. Bukan soal kemasyarakatan atau sosial. Mental yang baik akan membikin seseorang menjadi pribadi yang ceria, tidak mudah merengut dan bersungut-sungut. Mental bagi diri manusia menempati posisi yang sangat urgen dan sentral. Perlu dilatih untuk mencapai mental yang “hasanah”, mental yang kontinyu baik. Tapi sulit sangat untuk mencapai kontinyusitas “kehasanahan mental” itu. Perlu latihan. Sebagaimana yang telah lalu di tulisan saya tentang ke-legowoan hati seseorang.

 

Majemuknya mental kita itu masih mood-mood an. Malas itu juga bagian dari mental yang kurang sehat. Karena apa? Ya karena tidak punya tujuan dan orientasi masa depan cerah. Tapi apakah memang seperti itu? Ya tidak pasti. Seperti yang dikatakan seseorang pada saya tempo hari lalu: “Apa yang dapat dipastikan dari kehidupan kecuali kepastian?” والموت حق.

 

Berbeda dengan yang diutarakan Pieper dan Uden, L.K Frank mengemukakan bahwa mental adalah kemampuan seseorang dalam mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, serta juga terlibat dalam kemaslahatan banyak orang. Manfaat, kalau disederhanakan. L. K. Frank lebih mengarah ke sikap mengayomi dalam mendefinisikan mental. Sehingga orang yang tidak maju dan berkembang, kurang baik pula mentalnya. Mental baik akan memperngaruhi lingkungan. Secara kultural, mental baik akan membawa pengaruh baik.

 

Maka orang yang mentalnya tidak baik dan nakal dan binal, disebutlah ia “metal”: anak metal. Dibuangnya huruf ‘n’ dalam kata “mental” ternyata sangat mempengaruhi makna sebenarnya, dan sangat berkebalikan dari pengertian aslinya. Entah. Tidak ada kaitannya mungkin. Aku hanya mengira-ngira. Sangat tidak benar bila konsep itu dibenarkan. Saya ulangi sekali lagi, sangat tidak benar bila konsep itu dibenarkan.

 

Bagian dari kesehatan mentalmu adalah bagian yang urgen untuk menentukan sikapmu. Jadi, apabila mentalmu down, usah kau nyendak apa-apa. Diam saja dulu. Tenang. Cari dulu kesalahanmu. Baru setelah dingin hatimu, tentukanlah. Jangan menentukan atau menghakimi sesuatu ketika mentalmu sedang down atau lemah-lemahnya. Nanti jadinya setan yang membisik-bisik, lalu sekejap kalamhil bil bashor sekedip mata, kau menentukan sesuatu yang sumbernya adalah setan. Bahaya.

 

يعدهم ويمنيهم، وما يعدهم الشيطان الا غرورا.

“Setan senantiasa berjanji dan mengiming-ngiming mereka (dengan janji dan iming-imingan palsu). Sedang setan tidak akan berjanji kecuali kebohongan belaka.”

 

Ini universal. Jadi bisa saja kapan saja setan berjanji kepadamu, tapi mengertilah, tiada lain janji setan adalah janji yang PHP. Janji setan adalah kesemuan yang nyata. Termasuk pula janji setan: ketika sepasang remaja berpacaran; sang laki-laki mengajak berhubungan badan dengan si cewek disertai janji setelah hubungan itu, ia akan dinikahi.

 

Kenyataannya?

Memang kadangpula kenyataan janjinya. Tapi benarkah itu menurut syari’at? Benarkah itu menurut norma keagamaan? Ini istifham takriri: pertanyaan yang tak perlu jawaban. Bukankah hubungan badan menurut agama adalah hal terlarang sebelum menjalin akad nikah? Naudzubillah.

 

Contoh kecil itu dalam pengertian mental menurut Peiper dan Uden dan L. K. Frank belum disebut kaffah, mencukupi kriteria. Satu, ia belum mampu menahan nafsu dalam merusak keperawanan orang. Dua, menurut L. K. Frank, dia belum memberikan manfaat pada orang lain, tapi justru memberi kerugian pada orang lain. Naudzubillah.

 

Masa muda adalah masa di mana orang sangat rentan terjangkit “quarter life crisis“, yaitu kondisi manusia remaja dalam merasai kemunduran psikologis, keresahan hidup, tidak punya pandangan masa depan, mengalami depresi, tidak percaya diri, dan merasa inscure dengan oranglain. Maka beruntunglah mereka yang bertahan atas nama keimanan dan ketangguhan kepercayaan pada Tuhan. Amin.

 

Mengutip sabda Nabi Ya’kub pada anak-anaknya selain Nabi Yusuf As —karena Nabi Yusuf dibuang mereka di sebuah lubang—seseorang mengatakan di sumur—: ولا تيأسوا من زوح الله (Jangan putus asa dari rahmat Allah SWT).

 

Bila kalian sedang merasa dihancurkan ketidakpercayaan diri, keresahan akibat diputus pacar, mau putus asa karena tidak punya uang dan penghasilan, jangan putus asa, Kak. Ayo semangat. Jangan lemah. Bangkit. Tiada siapa dan apa yang mau mendengar keluh dan kesahmu kecuali penciptamu: Allah SWT! Saya beri tanda pentung. Karena menyadur dawuh Sayyidina Ali: “Telah aku rasakan seluruh kepahitan di dunia ini. Sedang yang paling sakit adalah berharap kepada manusia.”

 

Semoga mental kita aman sentosa gemah ripah loh jinawe. Semoga mental kita baik dalam pengertian Pieper dan Uden dan L. K. Frank. Amin.

 

Aqib Muhammad Kh (Murid Yai)

18 Ramadhan 1443

Kafe Basabasi

  • Bagikan

Respon (5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *