Idul Fitri: Sampai Jumpa Ramadhan

  • Bagikan
idul fitri

Oleh: Aqib Muhammad Kh

Idul fitri

adalah salah satu dari dua hari raya umat Islam—satunya idul adha. Makna kata “fitri” memiliki persamaan dengan kata “fitrah”, yaitu suci. Mengapa demikian? Karena setelah berpuasa sebulan penuh, lambang dari seseorang telah menahan hawa nafsu, syahwat, dan hal-hal jelek lainnya. Sehingga setelah itu, hari dimana setelah sebulan itu selesai, dimanakan dengan hari kemenangan yang fitri, atau kemenangan yang suci bagi setiap insan.

Seseorang ketika hari idul fitri, sebagaimana hadist Nabi Muhammad Saw, kullu mauludin, yuladu ‘alal fitrah (setiap (bayi) yang lahir dilahirkan dalam keadaan suci (bebas dari dosa-dosa). Seperti itulah kiranya seseorang setelah melakukan puasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan keyakinan (imanan wa ihtisaban): “Man shoma Ramadhan imanan wa ihtisaban, ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbihi”_

(Barang siapa yang melakukan puasa Ramadhan atas dasar keimanan dan keyakinan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau)

Ya Allah, _ij’alna minhum._ Amin.

Imam Ghazaly, dalam kitab Ihya’ bab rahasia puasa menjelaskan

bahwa puasa adalah seperempatnya iman, karena separuh dari iman terletak pada sabar. Puasa adalah ibadah yang hubungannya langsung, _face to face_ dengan Allah Swt. Jadi semua amal ibadahnya anak Adam As itu untuk dirinya, sedang puasa itu only for Allah Swt (Dia yang menanggung).

Maka orang yang benar-benar menelaah, mentadabburi, bermawas dan bermuhasabah diri saat Ramadhan, sucilah ia hari ini: idul fitri. Pentingnya Ramadhan adalah semacam stimulus bagi setiap orang, saya khususnya, untuk mawas diri dan berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, pada bulan-bulan sebelum Ramadhan; seburuk apakah saya di Ramadhan tahun lalu, kemudian bulan-bulan sebelum Ramadhan? Kalau Ramadhan saja saya tidak giat dan rajin dalam urusan ibadah, bagaimana saya merawat dan menghormati bulan-bulan lainnya?

Butuh berapa Ramadhan lagi kita untuk memperbaiki amal-amal baik kita? Butuh berapa Ramadhan lagi kita merasa butuh Allah Swt? Butuh berapa Ramadhan lagi kita khatamkan Al-Qur’an sekaligus mentadabbur dan mengangen-angen maknanya?

Tapi itu sudah berlalu. Saya yakin Allah Swt Maha Baik. Dan dengan ke-Maha Baikan Allah itu, kita disampaikan pada Ramadhan berikutnya dengan amal ibadah yang lebih dari porsi Ramadhan tahun ini.

Kembali pada makna suci, idul fitri, dan pakain terbaik yang dimiliki setiap orang.

Jangan terus mengharuskan atau mewajibkan siapapun untuk membeli lalu memakai pakaian baru. Barangkali ia tidak punya uang, atau mempunyai kebutuhan yang sangat mendadak. Nabi Saw. pun tidak mewajibkan seseorang untuk membeli dan memakai baju baru, tapi beliau ngendikan: أجود ما نجد, yaitu pakaian terbaik yang dimiliki, meskipun Imam Ahmad bin Ghunaim an-Nafrawi mengatakan bahwa “pakaian terbaik” di situ dimaknai dengan “baju baru.” Tapi tidak masalah juga kan, kalau toh seseorang tidak membeli pakaian baru. Ya mbokmenawa dia tidak punya uang sama sekali. Saya lalu ingat salah satu hadist —hadist ini dihukumi lemah (dhoif)— yang tertera di dalam kitab Durrotun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan al-Khubawi, yang intinya, ketika keluar rumah untuk melakukan shalat ied, Nabi Saw mendapati anak-anak sedang bermain, sedang seorang anak kecil menangis. Nabi Saw. pun menghampiri anak tersebut dan bertanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai anak?”

Anak itu tidak tahu kalau yang bertanya adalah Rasulullah Saw. Dia mengatakan bahwa ayahnya syahid di peperangan bersama Rasulullah Saw. Sementara ibunya menikah dengan laki-laki lain dan mereka mengambil harta anak tersebut.

Singkat kata, Nabi mengajak anak itu ke rumah beliau dan memberinya pakaian baru untuk lebaran. Ya Allah, sungguh merinding saya membaca kisah itu.

Betapa beruntungnya anak tersebut dapat baju dari Rasulullah Saw, dan dianggap anak oleh beliau.

Jadilah konsep itu di zaman ini angpaw, THR (Tunjangan Hari Raya), dan lain-lain. Lebih unik lagi adalah, angpaw dan THR bisa diberikan secara online melalui aplikasi-aplikasi. Masya Allah.

Tapi, keras saya berpikir: bagaimana nasib anak-anak desa yang hidup di pelosok tanpa teknologi dan media sosial? Anak-anak kecil seperti mereka, jauh lebih harus diperhatikan daripada saya yang hanya banyak ngeluh dan sambat? Padal jika dibanding dengan mereka yang hidup di pelosok, jauh sangat lebih memprihatinkan. Ya Allah, ingin sekali kami menyambang dan mengunjungi mereka, sedang kami dalam keadaan banyak sekali harta.

Idul fitri, dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah “lebaran”

yang mengandung makna lebar dan luber. Lebar adalah kelapangan hati seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sedang luber adalah turah atau lebih-lebih. Jadi kemanfaatan yang diberikan itu lebih-lebih.

Maka ya Allah, di hari dimana Engkau sucikan orang-orang yang Engkau kehendaki untuk mereka kesucian, sucikanlah kami juga yang pemaksiat dan pengecut ini, ya Allah. Amin.

 

1 Syawal 1443 H

2 Mei 2022

Tuban, Kota Wali

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *