Mencumbu Gadis Penunggu Serambi Masjid

  • Bagikan
gadis penunggu serambi putri

Oleh: Alief Irfan*

 

 

“Haaaaahhh ….”

 

Aku menjerit sampai serak, tenggorokanku sakit, kakiku tiba-tiba kaku dipasung ini persimpangan malam dan fajar. Aku mematung beberapa detik, sampai bisa menguasai keadaan. Lalu tak peduli sarungku copot, aku berlari keluar masjid menyelamatkan diri. Namun malah tersungkur di halaman masjid. Lututku mengucurkan darah deras, tergores permukaan paving yang kasar.

Belasan santri tiba-tiba sudah mengerubungiku, memapahku ke kantor keamanan, menenangkanku. Jantungku tetap terpacu kencang, keringat memandikan sekujur tubuhku. Dalam keadaan demikian orang-orang masih mengintimidasiku dengan pertanyaan ‘kenapa?’ ‘ada apa?’

 

Aku masih belum percaya dengan apa yang barusan kualami. Apa yang kulakukan merupakan kesalahan besar dan aku kini sadar telah melanggar peraturan pondok untuk tidak tidur di luar pondok, sekaligus menerjang pantangan tidak tertulis yang diyakini turun-temurun, untuk tidak tidur di bagian serambi putri masjid.

 

Pengalaman tiga malam berturut-turut ini adalah pelajaran penting dalam hidupku.

 

***

 

Sudah menjadi cerita wajib dikonsumsi untuk santri baru, bahwa di masjid dekat pondok banyak makhluk tak kasat mata. Yang paling terkenal adalah yang menunggu di bagian serambi putri. Beberapa santri kawakan yang katanya pernah tak sengaja bertemu, penunggu itu merupa gadis cantik, mengenakan gaun putih.

 

 

Namaku Zahid, satu di antara ratusan santri Pondok Pesantren Tanjung yang terletak di ujung pantai utara Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Ini adalah kisahku 5 tahun yang lalu.

 

****

Semua ini berawal dari ketidaksengajaan di sebuah malam.

Aku dan satu kawanku yang ngopi terlalu larut, sampai gerbang pondok sudah terkunci. Karena kawanku takut  besok pagi kena takziran, dia memilih diam-diam melompat dari sisi pagar yang tidak dijaga oleh keamanan. Sedangkan aku, yang sudah terlalu letih memilih meletakan tubuhku sembarangan di area masjid di dekat pondok. Tak butuh waktu lama, untuk aku tidur dengan pulas.

 

Senandung Tarhim lirih-lirih terdengar, aku tergeragap bangun, namun aku menyadari ada sesuatu yang aneh di sarungku. Ya, dia basah oleh sesuatu. Sesegera mungkin aku pergi ke kamar mandi membasuh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

 

Di tengah mandi, aku lamat-lamat ingat mimpiku tadi. Dimana aku sedang bercumbu di serambi putri dengan seorang gadis cantik, lebih cantik dari Damayanti si bintang di pondok putri, gadis itu mengenakan gaun putih yang sangat bersih. Aku hanya berhasil mengingat kejadian dimana bibirnya yang merah merekah mendarat ke bibirku. Hal-hal yang lain aku malu untuk menceritakannya di sini.

 

Sebagai santri yang sudah lebih dari usia nikah, tentu aku sangat mengingat gairah dan rasa nikmatnya. Aku bahkan merasakan jatuh hati  dengan sosok gadis itu. Aku senang dengan caranya memanjakan tubuhku. Aku yang tidak pernah sama sekali merasakan bagaimana adrenalinnya bercumbu di dunia nyata. Menyikapi mimpi itu sebagai anugerah terindah dalam hidupku.

Setelah subuh berjamaah, aku kembali ke pondok. Gerbang sudah dibuka, ada dua keamanan yang menjaga. Mereka tidak bertanya aku dari mana, mereka hanya menganggukan kepala menyapaku segan.

Sepanjang hari ingatan tentang gadis cantik dengan gaun putih itu melekat di kepalaku. Mendorongku untuk kembali menjemput mimpi itu nanti malam.

 

Usai kegiatan musyawarah, aku tidak ikut rutinan ngopi seperti biasanya. Aku sengaja diam-diam pergi ke masjid, meletakkan tubuhku, berbaring di serambi putri, sambil melihat kipas angin yang berubah menjadi rumah laba-laba. Aku merapal beberapa wirid, untuk mengundang kantuk, dan aku tidak tahu lagi.

Aku terbangun oleh lirih-lirih suara. Saat mataku berangsur terbuka aku sadar satu hal. Rumor itu memang benar ada, larangan turun temurun itu ada alasannya. Tubuhku bergetar hebat, melihat sosok mengenakan mukena putih bersih sedang sholat di hadapan mataku.

Batinku menerka, apa ini sosok penunggu serambi putri. Sejenak aku tertegun. kemudian berusaha menjinakkan rasa takut dalam diriku yang sedang memuncak. Aku mengatur napasku yang ngos-ngosan, menenangkan tubuhku yang direnggut cemas.

 

Saat keadaan sudah cukup aku kuasai, aku mencoba mendekati mukena yang memancarkan cahaya itu. Pelan-pelan saat sosok itu rukuk, aku coba memegang ujung mukenanya yang menjuntai ke lantai. Sangat lembut seperti sutra dan menyerukan aroma wangi parfum malaikat subuh, wujud ini nyata di depanku. Pikirku, aku ingin menengok wajahnya apakah ia sama seperti gadis dalam mimpiku, namun alam bawah sadarku menyuruh untuk pergi saja.

 

Gugup kembali merampas diriku. Secepat yang aku bisa aku keluar dari serambi dengan langkah cepat, semakin cepat, dan berlari secepat yang aku bisa.

 

Tubuhku yang kuyup oleh keringat, kusandarkan ke gerbang masuk pondok, aku sadar ada yang basah di sarungku. Tapi ini bukan terbentuk dari rasa nikmat, melainkan rasa panik yang tidak karuan.

 

***

 

Aku ceritakan apa yang kulihat dan kualami kepada Amar. Amar yang juga tahu rumor tentang serambi putri, seketika memakiku. Mengatakan aku lancang melanggar pantangan turun-temurun. Tapi aku membantah kepada Amar ‘seharusnya syarat untuk patuh terhadap sebuah aturan adalah kita tahu secara mendasar kenapa hukum itu ada dan diberlakukan, Mar.’ Amar ngangguk-ngangguk sepertinya dia menghindar berdebat denganku.

 

Kemudian aku mengajak Amar untuk ikut aku malam ini. Membuktikan sendiri sosok penunggu serambi putri yang dirumorkan turun-temurun bertahun-tahun. Bagaimana bentuk dan rupa aslinya.

 

Tapi, raut muka Amar tampak keberatan. Aku mencoba meyakinkannya. Dia masih tidak tidak mau. Hingga aku harus mengeluarkan jurus pamungkas. Aku mengancamnya, aku akan membeberkan satu rahasianya yang tidak diketahui manusia manapun kecuali aku. Dengan wajah terpaksa Amar pun mau. Aku menyuruh Amar membawa Hp-nya untuk merekam apa yang akan terjadi nanti malam.

 

Malam pun tiba, aku mencukupi musyawarah malam ini lebih awal ketimbang biasanya. Belum tengah malam, namun sunyi sudah mencekam. Karena langit malam ini begitu pekat oleh mendung, sesekali percikan cahaya juga timbul dari ufuk timur. Rasa-rasanya malam ini hujan pertama musim rendeng akan turun. Sepanjang siang aku merasakan gerah yang tidak biasa. Cepat-cepat aku mencari Amar untuk menagih janji menemaniku malam ini.

 

Tiba di masjid.

Serambi putri serasa lengang, ubin warna merah marun terasa dingin saat menyentuh telapak kakiku. Di hadapan Amar aku mencoba bersikap sebiasa mungkin

 

Aku menyuruhnya untuk segera memasang Hp dan menyalakan kameranya, ke arah shaf paling depan, di mana aku kemarin malam bertemu sosok penunggu itu.

 

Setelah beres, Amar pun mengambil tempat untuk tidur, aku tahu dari warna matanya dia pasti sudah sangat ngantuk. Seharian dia mengumpulkan kayu bakar untuk persediaan memasak di dapur umum. Amar menggelar sajadah sebagai spring bed, dan kopiah putih sebagai bantal alternatifnya. Tidak menunggu waktu lama Amar pun berlayar ke pulau kapuk.

 

Gelap. Aku gelisah, entah kenapa malam ini tidak seperti dua malam sebelumnya. Di tambah suara pintu yang mengarah ke kamar mandi putri, terus mendesis meski tidak ada angin. Dari pada pikiranku kemana-mana aku memilih memaksa mataku terpejam menyusul Amar ke alam mimpi.

 

Sialnya! Sudah beberapa kali mataku mencoba tidur tapi aku tidak berhasil. Karena aku tidak mau dikuasai praduga, pikiran praktis membantah ini pasti gara-gara Amar yang ngoroknya kebangeten. Terpaksa aku menyumpal mulutnya yang menganga dengan sorbanku. Masalah pun teratasi.

 

Aku kembali memejamkan mata harap-harap cemas mimpiku pada malam pertama dengan gadis bergaun putih itu akan terulang lagi.

 

Aku sama sekali tidak tahu, apa yang terjadi saat aku tidur. Entah hujan pertama jadi turun atau tidak. Entah Amar yang terbangun karena nafasnya sesak atau tidak. Yang jelas aku merasakan dalam mimpiku aku sangat kesulitan bernapas, tubuhku sangat kedinginan. Aku hampir mati.

 

Saat terbangun tiba-tiba aku sudah berada di sebuah penampungan air di kamar mandi putri. Aku terheran-heran, takut, nafasku terengah-engah. Aku berusaha keluar dari penampungan air, mencari gagang untuk membuka pintu kamar mandi dan keluar.

Aku panik! Pintu mengunci. Aku tarik-tarik sekuat tenaga tapi tetap tidak terbuka. Akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali melayangkan tendangan T ke arahnya.

Pintu terbuka, batinku bersyukur.

 

Di dalam gelapnya kamar mandi, aku mencari jalan keluar. Namun kakiku menginjak sesuatu yang lembek, tiba-tiba aroma amis menyeruak menusuk hidungku. Aku sudah melewati batas keberanianku. Aku takut, aku khawatir. Aku bersimpuh ingin menangis. Kakiku kaku.

 

Hampir 10 menit aku mengumpulkan keberanian untuk bangkit dan tak menghiraukan bau amis apa itu, aku fokus mencari pintu keluar kamar mandi ini. Melewati serambi putri dan keluar menyelamatkan diri.

 

Suasana gugup tidak berangsur hilang, ia tetap ada. Namun aku sedikit mulai mengatasinya. Sampai aku berhasil menuju pintu pembatas kamar mandi dan serambi putri. Namun siapa sangka saat pintu itu terbuka, ganti aroma wangi yang menguasai hidungku. Wangi yang sama, parfum malaikat subuh. Di depanku sosok yang kemarin kusaksikan kini dia ada lagi. Kini aku melihat wajahnya dari samping kanan. Ia begitu cantik, wajah beningnya sangat serasi dengan mukena putih bercahaya ini.

 

Aku tidak ingin mengganggunya. Pembuktianku tentang serambi putri yang ada penunggunya dan kamar mandi putri yang angker kurasa cukup. Amar sudah tidak ada di tempat, aku tidak tahu dia dipindah kemana oleh jin penunggu serambi ini.

 

Aku hanya fokus mengambil kopiah hitam yang terletak di sebelah selatan sosok gadis cantik ini. Perlahan dengan tubuhku yang menggigil aku beranjak mencoba mengambil kopiah itu. Gadis itu dalam keadaan tasyahud akhir, batin kecilku ingin rasanya menikmati wajahnya. Tapi sadarku, aku sudah jauh menyalahi batas, jadi aku harus segera pergi.

 

Aku berhasil meraih kopiah hitamku, aku ingin maju dan melihat gadis itu untuk satu kali lagi. Wajah gadis itu berubah. Sisi kanannya memang cantik, tapi sisi kirinya hitam terbakar, dengan ceruk mata berdarah, seperti bekas tertusuk benda tajam, dari pipinya belatung berukuran besar keluar keroyokan.

 

Aku menjerit sekeras yang tenggorokanku mampu, namun sosok itu malah menyudutkanku ke tembok. Sekali lagi aku menjerit dengan suara sangat keras. Wajah bening gadis itu berangsur digerogoti belatung. Baunya sangat busuk, amis, anyir. Aku ingin muntah. Aku ingin pingsan. Tapi tidak bisa.

 

Aku takut. Aku memejamkan mata. Sosok itu mendekatkan wajahnya. Sangat amis, dan busuk baunya. Ada semacam benda asing yang mendarat ke mulutku, membuatku tertutup untuk kembali menjerit. Rasanya sangat aneh dan geli.

 

Tanpa pikir panjang aku melayangkan pukulan keras ke kepala sosok itu. Ia terjatuh. Sepersekian detik ia bangun lagi dengan wajah bening lagi, dengan bau yang sudah tidak busuk lagi.

 

Aku tertegun ia kembali menyudutkanku, dia mendesis. Raut mukanya melas, ingin dikasihani. Ditengah takut aku terbuai simpati, menggunakan wajah cantiknya itu menciumku lagi. Aku bisa merasakan basah bibirnya, aku bisa merasakan gairahnya. Namun aku dihinggapi sadar hal yang kulakukan ini salah. Aku mendorong wajahnya. Ia sudah mengalih rupa seperti nenek tua yang habis terbakar seluruh wajahnya.

 

Aku kembali menjerit, menendang tubuhnya sekuat yang aku bisa dan lari terbirit-birit keluar dari masjid. Sialnya malah aku terjatuh di atas paving yang keras.

 

***

Semua orang menyimak ceritaku dengan mata terbelalak. Lututku terasa perih. Aku raba sarungku, basah. Tapi aku tidak tahu ini ulah ciuman si gadis cantik itu, atau ketakutanku akibat sosok menyeramkan itu.

 

———————————–

Alief Zahid, Santri Ponpes Manbail Huda Jenu yang aktif di dunia literasi . Karyanya telah dimuat di berbagai media masa dan terbit menjadi beberapa buku.,

Fb: Alief Irfan  Ig; @alief.Irfan_

  • Bagikan

Respon (4)

  1. Seru sekali dan mengajakku masuk kedalam rasa takut yg membuat kakiku ikut tercekat dan mematung diujung kasur

  2. Gadis yang terkenal cantik dikalangan pondok, Damayanti. Aaaa aku tahu betul siapa Damayanti itu🤭
    Ngos-ngosan bacanya
    Apalagi satu pondok sama penulis, bisa langsung membayangkan serambi putri yang biasa aku berjamaah di sana😌

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *