KETIKA PESONA MEMUDAR

  • Bagikan

Oleh: Ling-Ling Fitri*

Seorang pemuda bernama Fahmi Al-bantani usianya 25 tahun, Papanya bernama Ahmad Siddiq Al-bantani, Ibunya Kiara siregar dan adiknya Naira Siregar. Ia adalah anak yang berprestasi sehingga mendapat beasiswa kuliah di London, dan waktunya pulang ke Jakarta.

Pagi-pagi Mamanya mendapat kabar gembira bahwa  Fahmi akan pulang ke Indonesia, kepulangan Fahmi adalah hal yang paling di tunggu-tunggu keluarganya, setelah dua hari ibu mendapat kabar malamnya Fahmi sampai di rumah, Fahmi tampak sedih bercampur bahagia  bisa berkumpul bersama dengan keluarga kecilnya itu. Ia tak lupa membawakan oleh-oleh dari London yang berupa jilbab untuk adik tercintanya, gaun berwarna hijau untuk Mamanya dan baju koko yang di berikan kepada Papanya.

Fahmi juga menanyakan pada mamanya bagaimana kabar Lina, dia adalah sahabat Fahmi waktu SMA, namun mereka tak lagi saling komunikasi sejak ia di London. Mamanya Fahmi bilang terakhir Lina ke rumah, ia mengantarkan Mama makanan dan menanyakan kabar Fahmi.

Setelah seminggu lamanya Fahmi di rumah, sorenya ia pergi ke rumah Lina kelihatannya rumah Lina sangat sepi seperti tidak di huni lagi berbeda waktu mereka masih SMA, di rumah Lina tidak begitu sepi karena teman-teman yang selalu main ke rumahnya. Sekarang temannya sudah mempunyai kesibukkan masing-masing, tetapi hal itu tidak lah membuat  mereka memutus tali persahabatan, sampai sekarang mereka masih saling kenal.

Ketika Fahmi mengetuk pintu tidak ada seorang pun yang membukanya, kebetulan ada seorang tetangganya yang lewat dan Fahmi pun menayakannya. Ibu itu bilang kalau Lina dan keluarganya sudah satu tahun yang lalu pindah ke Surabaya, tetapi sebelum mereka pindah Ibunya Lina memberi kartu alamat tempat mereka tinggal, Fahmi pun meminta alamat rumah Lina pada tetangganya. Fahmi tampak sangat sedih karena Lina pindah ke Surabaya.

Keesokan harinya Fahmi di ajak oleh Papanya ke rumah pak Lukman yaitu teman lamanya, ia sudah ada janji pada pak Lukman. Fahmi pun ikut dengan Papanya, sesampainya mereka disana pak Lukman langsung menyambut kedatangan Pak Ahmad dan anaknya. Mereka berbincang-bincang tentang masalah perjodohan anaknya Pak Ahmad dan Pak Lukman, dan sudah ditentukan pelaksanaannya. Fahmi yang tidak mau membantah perkataan Papanya di depan pak Lukman ia hanya diam tak berbicara.

Sesampainya di rumah“Kenapa papa seperti itu padaku, i’m daddy’s first child” kata Fahmi kepada Papanya,“Kamu tidak boleh seperti itu nak, ini semua demi kebaikan kamu juga” lanjut Papanya.

Fahmi tampak sedikit kesal karena ia baru pulang dari mesir sudah di jodohkan Papanya, tetapi ia tidak menampakkan raut wajah kesal. Mamanya yang mendengar hal itu sangat senang dan menyetujui lamaran tersebut, tetapi ia tidak tahu apa yang dirasakan oleh.anaknya, beberapa hari setelah itu pernikahan pun segera di laksanakan.

Ketika Fahmi dipertemukan dengan pengantin perempuannya ia tampak sangat kesal, perempuan itu bernama Kirana. Ia adalah puteri sulung dari Bapak Lukman yang berparas cantik, penyayang, shaleha dan baik hati. namun kelebihannya itu tidak membuat Fahmi mencintainya. Sebulan setelah mereka menikah karena Fahmi  menghargai Pak Lukman ia pun tinggal di rumah baru bersama istrinya, semua kebutuhan di rumah Fahmi yang melengkapi semuanya. Kirana sangat sayang pada suaminya, tetapi Fahmi tidak ada sama sekali untuk memberikan kasih sayang sepenuhnya terhadap sang istri.

Malam itu Kirana duduk di atas keranjang tidurnya sedangkan Fahmi sedang duduk sambil membaca buku, lalu ia bertanya kepada suaminya “Mas… kamu kenapa,  sepertinya selalu menjauh dariku aku ini istrimu mas, apakah kamu tidak mencintai aku?” ucap Kirana dengan penuh kesedihan “yes right, i dont love you, and i will never love you” jawab Fahmi dengan tegas.

Ucapan Fahmi membuat istrinya itu terdiam, tetapi Kirana tidak ambil hati ia tetap berusaha suapaya ia dicintai suaminya,  malam hari Fahmi tidak tidur di kamar melainkan tidur di sofa ruang tamu. Kirana sudah berulang kali menyuruh suaminya tidur di kamar, tetap saja Fahmi tak mau mendengarkan kata istrinya.

Paginya Kirana bangun lebih awal karena ia harus menyiapkan sarapan buat suaminya, Fahmi yang kelihatannya sangat buru-buru ia langsung pergi dan tidak pamit pada istrinya. Setelah pulang dari kantor, Kirana sudah menunggu untuk makan siang dengan suaminya.

Fahmi langsung duduk  dan segera makan setelah itu, Kirana bertanya lagi kepada Fahmi “Mas… sudah sekitar 4 bulan kamu seperti ini terus, apakah kamu sudah mencintaiku? Jawab mas!” Fahmi hanya diam seakan tak mendengarkan pertanyaan dari istrinya itu.

Malam itu ketika Fahmi ingin masuk ke kamar ia mendengar suara tangisan Kirana, dia hanya membiarkan dan tak peduli tentang kesedihan Kirana.

Begitu seterusnya, setelah makan malam Kirana menanyakan hal yang sama seperti tadi siang, “mas apakah kamu udah mencintai aku?” suara Kirana dengan lembut.

Pertanyaan Kirana sudah memancing amarah suaminya, Fahmi langsung angkat suara dan ingin menampar Kirana “bisa gak sedikiiit aja kamu jangan tanya tentang itu lagi aku tu capek dengernya, kan aku dah bilang i will never love you!” kata Fahmi.

Kirana terdiam dan menahan air mata yang bergelinang “ what’s the reason you dont love me mas, apa kamu punya wanita lain.” Kata Kirana dengan penuh kesedihan, “iya benar karena kamu bukan wanita yang aku idamkan, dan satu lagi jangan pernah berharap aku mencintai kamu, camkan itu! Sekarang kamu masuk ke kamar kepalaku pusing kalo lihat kamu, masuk sana!” jawab Fahmi dengan nada tinggi.

Kirana langsung masuk ke kamar sambil melihat foto pernikahannya “ya Allah berikanlah hidayah kepada suami hamba supaya dia menyayangi dan mencintai seperti layaknya istrinya ya Allah… sayangilah dia sebab bagiku pernikahan itu sekali seumur hidup dan pasanganku saat ini adalah pasangan sampai mati amiin…” ucap Kirana.

Pukul 22:17 malam Fahmi sudah tertidur nyenyak di ruang tamu, ponselnya berdering Kirana yang belum tidur terdengar ponsel Fahmi langsung dia yang mengangkat telfon, ternyata Ibu mertuanya.

“assalamualaikum nak…gimana kabar kalian di sana, maaf ya kalo Mama nelfonnya malam-malam, soalnya Mama khawatir sama kalian” keluh Ibu mertuanya.

“alhamdulillah baik Maa…gak usah khawatir kami di sini baik-baik aja kok Maa” jawab Kirana, “Fahmi mana nak” lanjut mertuanya.

“ooh… mas Fahmi udah tidur duluan Maa Kirana belum tidur, tadi habis beresin rumah soalnya ada temannya mas Fahmi main ke rumah” kata Kirana

“ooh gituu…yaudah kalo gitu bilang dapat salam dari Mama” lanjut mertuanya lagi sambil mengakhiri pembicaraan.

iya Maa besok Kirana bilang, waalaikumsalam” Kirana menutup pembicaraan sambil menghela nafas panjang.

Hari itu Fahmi sehabis dari kantor tidak langsung pulang ke rumah, ia mampir di restoran untuk makan siang. ketika ia sedang makan terdengar dua orang pemuda sebaya dengannya, sedang bercerita tentang seorang perempuan.

“gimana pendapat kamu tentang perempuan yang kemarin ” Kata Bayu.“kalau menurut aku yaa perempuan yang cantik banyak di dunia ini, tetapi jarang-jarang  perempuan yang tangguh, mempunyai rasa kepedulian terhadap kita ataupun orang lain belum ada seratus persen, melainkan untuk menyibukkan kehidupan di dunia” Jawab temannya.

“Coba ceritain seperti apa perempuan yang kamu idamkan dan apa alasannya” Bayu memberi pertanyaan.

 “perempuan yang sangat aku idamkan itu dia selalu memberikan kasih sayang pada suami dan anak-anaknya, dan perhatian. dan kita sebagai lelaki harus memperlakukan perempuan dengan lemah lembut, mencintainya karna Allah semata dan jangan pernah kita membuat wanita meneskan air mata karena perilaku buruk kita, perempuan itu sama seperti bunga, mereka harus di perlakukan dengan lembut dan baik sebagaimana Ibu kita.” Jawab Ridwan.

Fahmi yang mendengar semua pembicaraan dua orang lelaki itu dia langsung menetesan air mata dan bergegas pulang ke rumah. Ia teringat kembali pembicaraan dua orang lelaki tadi dan mengingat bagaimana dulu selama pernikahannya dengan Kirana. Betapa menyesalnya Fahmi kerena tidak pernah memberi kasih sayang, perhatian dan tidak pernah mencintai layaknya istri sendiri sedangkan Kirana sebaliknya. Sesampainya di rumah Kirana sedang duduk menonton televisi sambil menunggu Fahmi pulang.

Fahmi memanggil Kirana dan memeluknya dengan erat,  “maafkan aku selama ini tidak membuatmu bahagia karna kelakuanku, aku janji tidak akan seperti dulu lagi, aku mencintaimu dan menyayangimu layaknya istriku” kata Fahmi penuh tangisan. “Iya mas, aku juga mengerti bagaimana perasaanmu mas gak perlu minta maaf seharusnya aku yang minta maaf, karena selama ini belum bisa jadi wanita yang kamu inginkan tapi aku berusaha supaya kamu mencintaiku mas” jawab Kirana dan mereka saling berpelukan.

Seperti biasa Fahmi berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ia memakan masakan istrinya dan tak lupa untuk berpamitan dan mencium keningnya. Selama di perjalanan Fahmi tampak seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya, ia teringat ternyata dompetnya ketinggalan di meja saat sarapan pagi. Fahmi langsung menelfon Kirana dan meminta tolong agar dompetnya diantarnya, Kirana dengan senang hati mengambil dompet dan mengantarkan ke kantor suaminya menggunakan kendaraan pribadi. Setelah sampai Fahmi belum turun dari mobilnya ia menunggu kabar dari Kirana, sekian lama Fahmi menunggu maka ia langsung menelfon Kirana tetapi tidak dapat di hubungi.

“mungkin mampir di rumah Mama kali ya” Fahmi bertanya dalam hati, ia mencoba menelfon Ibu mertuanya. Lagi-lagi tidak dapat di hubungi Fahmi langsung ke rumah Ibu mertuanya dan ternyata di sana tidak ada siapa pun, Fahmi mulai panik tak lama kemudian Ibu mertuanya itu menelfon dengan penuh tangisan.

“naak… Ki..ki..rana” suara ibu mertuanya tidak begitu jelas.

“kenapa Maa, Kirana kenapa!” jawab Fahmi dengan panik

“Kirana menginggal kecelakaan, sekarang Mama di rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres” ucap Mamanya tak berdaya.

Fahmi yang mendengar kabar itu langsung terduduk di lantai seperti orang kehilangan akal. Sebelum di makamkan Fahmi mencurahkan semua isi hatinya “ya Allah… mengapa secepat itu waktu kebahagiaan yang engkau berikan kepadaku, kami baru beberapa hari merasakan betapa indahnya waktu-waktuku bersama istriku, aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku membuat istriku bahagia seperti saat ini sebelum ia pergi, tetapi aku merelakan kepergianmu atas izin Allah Kirana i will never forget you, sekarang aku bagaikan kehilangan segalanya.”

Namun waktu tidak bisa di putar kembali. Setelah dua tahun peninggalan Kirana, Fahmi pergi ke Surabaya ingin melamar Lina kebetulan kabarnya dia belum menikah, dan lamaran Fahmi pun di setujui oleh semua keluarganya. Kehidupan Fahmi pun jauh berubah dan mereka hidup bahagia, tak lupa pula Fahmi berziarah ke makam istri tercintanya.

 

*Ling-Ling Fitri merupakan siswi kelas X dari SMK Peradaban Desa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *