Aksara Kawi sebagai Media untuk Mengenal Tapak-tapak Diri

  • Bagikan

Oleh: Afin Nur Fariha

(Sebuah Kronik Selama Seminggu Belajar Aksara Kawi di Baitul Kilmah)

Pajangan dalam balutan malam yang dingin. Kami berjalan membelah gelap, menyusur rimbun pepohonan jati yang mengapit jalan setapak.

“Apa kita tidak memakai payung? ucap Wulan, sebab ujung jilbab kami mulai basah. Hujan kecil mendera langkah kami. Aku berjalan lambat di antara tiga sahabatku. Mengamati mereka dari belakang, dalam hati kuucap, terima kasih Tuhan untuk mempertemukanku dengan sahabat-sahabat yang baik: Latifa, Elisa dan Wulan. Tak lupa kami punya satu teman lagi yang barangkali sudah menunggu di pendopo, Mba Gadis, namanya.

Meski tanah kapur yang basah ini menyerap alas kakiku ke dalam kubangannya, juga ketika kuambil langkah yang baru, tanah kapur kian liat menempel sandal, namun begitu, langkah hatiku terasa ringan, tak seberat langkah kaki dengan sandal yang berbalut lumpur. Aku menghirup bau lumpur kapur yang lembabnya justru terasa wangi, juga aroma daun-daun jati yang kian tajam ketika terguyur hujan dan terhempas angin.

Malam ini adalah Jumat 20 Mei 2022, tak lupa kami membawa buku catatan dan alat tulis menuju pendopo, tempat dimana kami akan belajar mengenal, mencinta, membaca dan menulis Bahasa Kawi. Hmm, bukan proses yang mudah, sebab pastinya dibutuhkan banyak daya akan kesabaran dan keyakinan.

Kami, generasi yang lahir pada Abad 21, dengan berbagai dinamika patahan-patahan pengetahuannya, serasa bahwa Aksara Kawi yang akan kami pelajari adalah suatu benda yang sangat tua, antik, kuno dan dingin. Sesuatu yang jauh, sebab kami sama sekali tak mengenalnya. Ke depan, tepatnya tiga hari setelah aku menempuh Kelas Kawi, lewat media teks pada ponsel, Ia bertanya: Selain untuk melestarikan tradisi leluhur, Apa to sebenarnya tujuan belajar aksara ini? Meski begini pertanyaanku, tapi aku berharap kamu selalu semangat!” katanya.

Pada tujuan apapun dengan skala yang lebih besar (yang bahkan itu tak sempat untuk kupikirkan) namun tangga tujuan pertamaku adalah agar aku bisa menuliskan namamu menggunakan huruf-huruf leluhur kita.

Garis cahaya  kian menampakkan wujudnya. Garis itu bersumber dari pendar lampu gantung klasik di pondopo juga lampu-lampu kecil yang terpasang di pinggir-pinggirnya. Berjalan terus kami menghampiri tempat tersebut. Sebuah pagar dengan papan pengumuman dari  kayu ukir yang di atasnya dilindungi atap miniatur bentuk joglo berdiri di depan pagar pendopo. Papan pengumuman itu bertuliskan nama serta alamat tempat kami menimba ilmu: “Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah – Kayen RT 04 Sendangsari Pajangan Bantul.” Rajutan huruf tersebut diukir menggunakan kayu dengan font pemilihan huruf yang sederhana namun nampak estetik dengan segala keserasian unsur-unsur di sekitarnya.

Setelah melewati pagar, untuk sampai pendopo, kami harus menapaki jalan menurun. Pada ujung jalan turun itu sebuah dataran yang cukup luas membentang, tempat dimana pendopo berdiri. Kami antri membasuh kaki dengan air yang mengalir dari kran di samping sepetak taman depan pendopo.

Di dalam pendopo, beberapa rehal telah  berjajar rapi menghadap selembar layar LCD dan sebilah papan tulis. Kami memilih rehal di ujung kanan belakang, rehal ini sangat nyaman sebagai alas buku untuk menuliskan hal-hal yang perlu ditulis.

Guru kami telah datang, hingga pertemuan belajar berikutnya kami menghafal, bahwa beliau selalu mengenakan blangkon, salah satu atribut busana para leluhur. Sering kudengar, orang sepuh berkata: Ilmu yang sejati selalu menubuh, memancar keluar dalam bentuk laku, sikap, perkataan bahkan hingga pilihan hidup, mungkin juga termasuk pilihan beliau mengenakan penutup kepala – blangkon.

Beliau adalah seorang pakar manuskrip juga kurator naskah dan aksara Nusantara, Diaz Nawaksara nama guru kami itu. “Bahkan kita didatangi sumur, berkah menimba tiada tara, maka akan sangat malu jika kita bermalasan,” begitu dawuh Kyai kami, Aguk Irawan saat memperkenalkan Ustad Diaz.

 

Menyadari Naskah, Manuskrip dan Prasasti sebagai Sumber Primer Peradaban Nusantara

Sebelum kami belajar membaca dan menulis Aksara Kawi, Ustad Diaz memberi sebuah pengantar  agar kami tak hanya sebatas bisa membaca dan menulis, akan tetapi juga turut menjiwai aksara kuno tersebut. Di acara pembukaan, bergulir serangkaian cerita dari beliau tentang pengalaman dan pertemuannya dengan Aksara Kawi. Begini Beliau menuturkan kisah itu:

”Banyak manuskrip yang ditulis oleh Pujangga-pujangga Nusantara dibawa ke Leiden, ke Inggris, orang-orang luar mengagumi aksara kita, tetapi kita tak bisa menikmati, sebab kita tak bisa membaca. Jika bahasa adalah sandi, maka banyak rahasia yang bisa kita temukan dengan membacanya. Moyang kita sangat kaya dengan sandi-sandinya. Di Indonesia hampir setiap etnik besar memiliki aksara sendiri, ada 40 aksara lebih.

Juga kita tahu, hegemoni Aksara Latin membuat tergerusnya aksara para Moyang. Kini, kita melihat aksara Moyang kita seperti gambar, seperti lukisan batik. Di hadapan manuskrip, lontar, prasasti yang menjadi sumber primer peradaban Nusantara kita beku dan berjarak.

Kerajaan Nusantara adalah kerajaan yang adiluhung, kita mendapat kabar tersebut justru dari sarjana Belanda. Tidak ada yang salah, akan tetapi penafsiran dari luar seberapa mampu mewakili penafsiran dari pandangan masyarakat bangsa sendiri?

Dalam perjalanan saya dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari naskah, ketika naskah itu sudah di depan saya, saya sering merasa ironis, sebab hampir 70% naskahnya  dalam keadaan hancur, saking tidak diurus, karena tidak bisa dibaca. Padahal, di titik untuk saya dapat berhadapan dengan sebuah naskah, saya diharuskan melakukan banyak ritual. Setiap pemilik naskah memiliki aturan ritualnya tersendiri. Kita tidak boleh menyentuh naskah tanpa ritual, juga beberapa naskah tidak bisa dibuka pada bulan-bulan tertentu. Banyak naskah berisi doa-doa dan mantra, bahkan fisiknya dianggap keramat.

Satu hari saya bertanya kepada seorang pemilik naskah, kenapa naskah-naskah ini dimandikan? Kata bapak pemilik naskah, karena ini naskah keramat dari yang mendirikan desa saya. Saya bertanya lagi, kenapa tidak boleh dibuka? Karena ini keramat.

Kepada Bapak itu saya ingin berkata, mukjizat Al-quran, Bapak.., bukan kertasnya yang keramat tetapi isinya. Menjadi suatu hal yang pusaka jika naskah ini bisa dipelajari oleh orang sekitar. Mau sampai kapan naskah-naskah yang berisi ajaran Para Wali tersembunyikan?”

Di akhir moment pengantar, Ustad Diaz bercerita pula tentang kejadian yang mengiringi setelah beliau bersama teman-temannya bertekad mengadakan Kongres Aksara Kawi pada tahun 2020.  “Teman-teman arkeolog memberi tahu saya, mereka terkejut, banyak daerah yang bertahun-tahun diekskavasi namun tak kunjung ditemukan peninggalan moyang kita. Setelah kongres itu, terutama di daerah Wonosobo, pada daratan yang diekskavasi, yang dulunya tidak ditemukan apa-apa, mereka terkejut ketika ada banyak prasasti yang muncul begitu saja. Dari kejadian itu saya berpikir, bahwa leluhur kita pun juga sedang membuka pengetahuannya, sehingga prasasti tersebut bermunculan keluar. Saya jumpai kejadian begini pula, di dunia manuskrip.”

Kemudian, beliau membimbing kami untuk mengantarkan doa kepada Para Luhur dan Para Moyang, agar mereka memberi kami restu untuk mempelajari aksaranya. “Sebab, jika aksara adalah pintu, membaca adalah kuncinya,” begitu pungkas Ustad Diaz.

 

 Sepekan yang Penuh; Mendaki Proses Membaca dan Menulis Aksara Kawi

Besok harinya kami semua memulai perjalanan belajar membaca dan menulis Aksara Kawi. Ustad Diaz memiliki cara yang sangat jitu dan cepat agar kami dapat mengakrabi huruf-huruf kawi tersebut.  Dengan perasaan akrab, akan lebih mudah bagi kami untuk mengenal aksara leluhur. Beliau memberi rumus-rumus gramatikal, langsung disertai pengaplikasian dalam menuliskannya. Beliau meyakini menulis adalah juga jalan mengakrabi. “Oleh sebab itu, beranilah menulis,”pesannya.

Pada hari ketiga, beliau meminta kami menuliskan arti dari Suroh Al Fatihah berbahasa krama inggil menggunakan huruf kawi. Di hari keempat, kami diberi tugas kelompok untuk membaca sebuah manuskrip. Pada hari ke lima, kami melakukan sorogan membaca manuskrip. Di hari keenam, Ustad Diaz mengajak kami menuju musola pesantren. Gerimis mengguyur rerumputan di halaman musola. Musim hujan, malam begitu pekat juga cukup dingin – dan tawa, ghiroh belajar juga kesungguhan memudarkan hawa dingin itu.

Di halaman mushola kami bertapa, gerimis lembut mengguyur tubuh kami. Ustad Diaz berkata, “Mengasah rasio barangkali tidak cukup, semoga perjalanan kita menimba ilmu Aksara Kawi ini juga dibarengi laku mengasah secara rasa. Mendekatkan diri dengan Rama Langit dan Ibu Bumi.” Beliau mengajak kami mengucap syahadat, diikuti doa-doa berbahasa Arab dan Jawa, persaksian atas segala penciptaan semesta alam raya, begitu syahdu, teduh, keteduhan yang mengantarkanku pada garis ambang tertidur dan terbangun.

Sebelum meditasi tersebut dimulai, Ustad Diaz Nawaksara mengajak kami untuk menata niat hati agar teguh melestarikan aksara para leluhur sebagai salah satu jalan jihad moral untuk bangsa.  Beliau berkata, “dengan niat, kita akan dibawa pada dimensi lain, dimensi dimana keteguhan kita dijaga, juga membawa pada dimensi yang lebih ilahiyat. Batas tipis yang membedakan suatu amalan perbuatan adalah pada niat.”

Penghujung pekan ini ditutup dengan sowan ke Pondok Pesantren Budaya Kaliopak sekaligus penutupan Kelas Belajar Aksara Kawi. Kyai Jadul Maula- Pengasuh Pondok Kaliopak yang sekaligus ketua Lesbumi membacakan Surah Al-Alaq untuk kami. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia yang menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, Yang mengajar manusia dengan pena, Dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Beliau berpesan, bahwa ketika Islam datang, ada gerakan baru, yaitu metafor-metafor kemanusiaan diikat dengan pena yang mana hal tersebut menggeser media metafora sebelumnya yaitu patung. Beliau juga mendoakan, semoga belajar Aksara Kawi menjadi salah satu jalan untuk mengenal tapak-tapak diri. Selepas itu, kami semua berdiri mengumandangkan sholawat Mahalul Qiyam.

Pajangan, Jumat 27 Mei

  • Bagikan

Respon (6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *