Dzikir Tanpa Adanya Niat, Apakah Diterima?

  • Bagikan
Santri Mambaus Sholihin sedang berdzikir

Oleh: M. Hasanuddin*

Dzikir Merupakan Suatu Sebutan Atas Amalan (Perbuatan)

Atau ucapan seorang hamba secara umum, baik karena merendah dirikannya hamba kepada tuhan nya atau rasa nikmat yang diperoleh, serta rasa syukur yang besar sehingga spotantitas berucap dzikir.

Menurut Imam Nawawi didalam kitab Adzkar, dzikir itu terbagi menjadi 2 hal, adakalanya dengan hati dan adakalanya dengan lisan, Adapun yang lebih utama adalah dengan keduanya. Kemudian jika dzikir tanpa didasari dengan niat apakah bisa diterima oleh Allah SWT ?

Seorang santri sedang berdzikir dengan khusyuk

Niat Bisa juga Diartikan Bagian Terpenting dalam Melakukan Segala Aktifitas

Banyak sekali amalan yang tidak bernilai ibadah namun tetap berpahala besar, begitupun juga sebaliknya, tidak sedikit amalan atau aktifitas yang dilihat, dinilai oleh sebagian orang dengan ibadah, namun karena tanpa didasari niat atau dengan niat yang keliru, tidak ada balasan dan tidak ada nilai ibadah sama sekali, alhasil tidak ada ganjaran yang diperoleh melainkan hanya kelelahan.

Didalam kitab hadits Arbain An-Nawawi, karangan imam Zakaria Muhyiddin An-Nawawi, problematika niat diletakkan pada hadits pertama dari total 42 hadits dalam kitabnya. Beliau mencantumkan hadits nabi tentang niat sebagaimana berikut:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob R. A, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhori dan Muslim).

Kemudian disebutkan didalam kitab Syarh Ratib Al-Haddad pada faidah ke-17 tentang dzikir dengan niat dan dzikir tanpa niat, bahwasannya banyak ulama’ berbeda dalam berpendapat tentang hal tersebut (khilaf), ada ulama’ yang beranggapan bahwasannya dzikir seseorang diterima meskipun tanpa ada niat dan ada ulama’ yang menganggap hal tersebut tidak dapat diterima.

Diantara ulama’ yang berfatwa adalah  Qodhi Iyad bahwasannya dzikir tanpa didasari dengan niat tidak ada pahalanya dan disamakan dengan suara-suara biasa yang tidak memahamkan yang kemudian dikokohkan oleh Imam Jalal Al-Bulqini. Sedangkan menurut Imam Nawawi berfatwa sebaiknya seseorang bilamana tidak bisa dzikir tanpa menghadirkan hati atau tanpa niat tetap menjalankan dzikir tersebut karena keutamaan suatu amal, hendaknya mengamalkan walaupun sekali saja seumur hidup.

*M. Hasanuddin, satu diantara beribu mahasiswa UIN Sunan Kali Jaga

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *