Muhasabah Akhir Tahun

  • Bagikan
Muhasabah Akhir Tahun
Oleh: Aguk Irawan Mn

Muhasabah Akhir Tahun

Kenapa Nabi pernah bersabda, bahwa tafakkur orang alim sesaat itu lebih baik daripada sujudnya orang jahil selama 60 tahun ? Mungkin itu karena tafakkur bisa melatih diri kita agar berada dalam “khawas.”

Dokumentasi kegiatan santri Baitul Kilmah saat malam tahun baru

Ada beberapa tingkatan di dalam tafakkur

Pertama adalah tafakkur untuk ibda’ (kreatifitas), bisa dengan mengamati, meneliti, lalu menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Orang yang sering tafakkur dipastikan tersiksa jika dia menganggur. Karena manusia punya hati dan pikiran secara fitrah berpotensi untuk selalu kreatif. Orang yang terbiasa tafakkur akan melihat perjalanan waktu untuk suatu pencapaian.

Kedua, tafakkur untuk intropeksi diri, dengan merenungi apa yang telah kita abdikan pada Allah pun pada sesamanya, sehingga ingin lebih baik lagi. Karena setiap waktu yang berjalan semakin kita dekat dengan batas, yaitu kesementaraan hidup. Jika ada sedikit yang baik disyukuri dengan meningkatkan kebaikan dan tidak merasa berjasa apalagi jumawa, begitu yang kurang baik diperbaiki sembari istigfar kepada Allah.

Ketiga, tafakur untuk perbuatan yang istiqomah, dengan memperhatikan perbuatan apa yang sekiranya kita bisa langgeng menjalankan, agar ada ritme yang ajek dalam diri kita yaitu berupa keindahan di dalamnya, karena mengerjakan kebaikan secara terus-menerus tanpa henti, meskipun itu kecil, akan renjadi sesuatu bagi hidup kita.

Keempat tafakkur dengan fokus memberi, mengabdi dan menjadi pelayan dan tidak terpengaruh daripada sesuatu di luar kita. Tetapi semua semata-mata karena Allah Ta’ala. Tafakkur dengan ini akan menerima segala keadaan dengan kadar yang sama, baik buruk, suka duka adalah tamu yang wajib dihormati dengan kadar yang sama. Pergantian pasang surut itu tak nempengaruhi diri kita untuk bisa terus menjadi pelayan Allah dan sesama sebaik-baiknya.

Karena sejatinya kita dihidupkan sesaat ini sebenarnya Allah memberi misi kita untuk menjadi sang pembawa rahmat, yaitu kesadaran yang tidak lagi menerima atau mendapatkan, namun kesadaran yang membangunkan diri kita untuk memberi dan melayani.

Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1444 H. Semoga hidup kita makin berkah dan manfaat. Amin.

 

Senja di Pajangan 29 Juli 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *