Sedikit Soal Simbol Negara

  • Bagikan
Sedikit Soal Simbol Negara

Oleh: Aguk Irawan Mn

Asal usul mengenai kata Indonesia, benderah merah putih dan peci, sudah banyak ditulis oleh para pakar, terutama dari kalangan orientalis (mungfasil). Maka, saya kira perlu menghadirkan sejarah dari versi kita sendiri (muttasil), sebagai alternatif dari kepungan sumber orientalis. Bahan bakunya adalah warisan intelektual leluhur kita yang banyak ditulis dengan aksara lokal.

Agar tradisi kutip-mengutip sumber orientalis ini tidak tunggal, dan makin menjadi-jadi di bangku akademik. Khususnya di perguruan tinggi islam, yang senang apapun asal sumber luar. Jadi perlu ada perspektif lain. Penyeimbang dan alternatif sebagai sebuah diskursus.

Selain itu, islamic studies dan hal-hal terkait bangsa kita agar tidak melulu Eropa-sentris, sebab kita tahu, orientalis ini tidak saja pernah berhasil memecah-belah kekuatan maritim bangsa-bangsa Nusantara, tetapi juga menjauhkan pengaruh ulama, yaitu habaib, kiai dan tokoh pribumi yang mengekpresikan islam dengan kebudayaan adiluhung. Kita harus sadar soal itu.

Padahal peran para habaib itu luar biasa untuk bangsa ini. Selidiklah sejarah Kesultanan Islam di seluruh Nusantara, pasti dibelakangnya ada peran besar mereka, bahkan Kesultanan Pontianak dididirikan oleh fam Al-Qodri Ba’lawi. Habib lain, untuk menyebut sedikit nama, diantaranya perancang lambang Garuda adalah Alhabib Abdul Hamid Alkadri, perancang bendera Merah Putih kita adalah Alhabib Idrus Salim Aljufri, pencipta lagu Hari Merdeka kita adalah Alhabib Husain Muthahar, dan lain sebagainya. Pahamkan generasi melenial soal ini, yang tiap hari ketika mendengar nama Arab langsung membully dengan ‘Kadrun’?

Sementara dari Serat Dewa Ruci karya Kanjeng Sunan Kalijaga abad 14 misalnya ternyata sudah meyebut kata Indonesia (Ing-gone-sia), dalam Jawa Dwipa itu berarti di dasar laut. Ingat bagaimana cerita Werkudara yang diminta guru Durna untuk melawan Rukmakala yang ada di Samudera (laut), ternyata kata Ing-gone-sia ini juga sejalan dengan kata Nusantara yang diserap dari bahasa Melayu Kuno (Austroniesia), nuswa (laut) ntra (wilayah).

Lalu apakah kita ingat saat cerita Werkudara ketika akan berangkat berperang melawan Raksasa Rukmakala? Sang guru memerintahkan agar sang murid membuat kenduren (slametan) dengan bubur putih dan bubur abang (merah).

Begitu juga, saat Werkudara menang melawan raksasa bernama Naga Rukmakala di Samudra itu, dia keluar ke permukaan, lalu bertemu dengan dewa ruci (Nabi hidir), salah satu yang diberikan itu adalah sejumlah pakian, sarung, sorjan dan kopyah (peci) untuk dipakai sebagai tanda telah teruji menjadi santri dan mendapatkan ilmu tirtabakti (marifat). Peci? Bukan abebed sirah (pengikat kepala) pakaian yang biasa digunakan untuk para sulinggih (murid hindu). Karena pengikat kepala bisa menghalangi kening untuk bersujud dalam solat.

Jadi ketika bung Karno berpidato berapi-rapi terkait peci ini ada sanadnya. Salah satu yang mengingatkan ini adalah R. Sosrokartono yang menerbitkan Majalah Indonesia Merdeka di Belanda dan menggunakan simbol majalah itu dengan peci.

Tahu siapa beliau? Sosrokartono selain murid Kiai Soleh Darat Semarang juga teman seangkatan Mbah Hasyim Asyari, bersama KH Ahmad Dahlan. Dia inilah yang memperkenalkan adiknya Kartini untuk koresponden dengan guru-gurunya di belanda. Dia juga guru spiritual Bung Karno.

Singkatnya, diawali dari sejumlah pelajar pribumi di Belanda yang digawangi R. Sosrokartono dan Noto Suroto pada 25 Oktober 1908 membentuk Indische Vereeniging, lalu diganti menjadi Hindia Putra. Tahun 1922, datanglah pemuda umur 19an tahun, diantaranya A. Subandrio, M Hatta, M. Nasir dan sebagainya, mengganti nama Hindia Putra menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Perhimpunan Indonesia adalah organisasi politik pertama yang menggunakan kata “Indonesia” di dalam namanya. Ide-ide tersebut dipengaruhi oleh ide sosialis dan Gandhi di India tentang pembangkangan sipil tanpa kekerasan. Lalu mereka menerbitkan majalah pelajar bernama “Indonesia Merdeka” dengan semboyannya “Indonesia bebas dari penjajahan!”

Sekali lagi saya ingatakan. Simbol dari majalah itu adalah Peci, selaian kata ini ada dalam manuskrip kuno, juga suatu bentuk yang menyerupai peta Indonesia dengan merujuk pada sumpah PALAPA. Salah satu aksi yang paling dikenal dalam majalah itu adalah manifesto politik yang dikeluarkan pada 1925. Kegiatan tersebut berdampak hingga membuat pemerintah Belanda merasa terancam akan keberadaan organisasi pergerakan nasional dari para pelajar di kancah internasional.

“Ayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai ‘peci’ ini sebagai lambang Indonesia merdeka,” ajak Soekarno muda suatu waktu terjadi dalam pertemuan Jong Java, yang tak lama dengan diterbitkannya majalah “Indonesia Merdeka”.

Sebenarnya banyak hal yang ingin saya sampaikan di acara Ospek mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga, terkait tema kesunan kalijagaan dan Islam Nusantara sebagai bukti ikatan antara islam dan kebudayaan di negeri kita berjalan harmonis. Dimensi inilah yang memberi daya dukung dan penopang berdirinya NKRI.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *