Prosa dari Maktabah ‘Ammah

  • Bagikan
Dokumentasi Pribadi

Diterjemahkan oleh: Taufik Damas*

Otak Yang Licik

Suami-istri bertengkar hebat. Sang suami pergi meninggalkan istrinya sampai ke luar kota. Di kota yang ia singgahi, ia temukan masyarakatnya sedang gelisah. Ia tanyakan pada mereka: mengapa kalian tampak gelisah?

Raja kami sedang marah karena isi gudangnya dicuri. Sampai saat ini belum diketahui pencurinya.

Tiba-tiba ada seorang tua berjalan dengan menjinjitkan kaki: menjadikan jari-jari kaki untuk tumpuan seluruh badan.

Ia heran: mengapa orang tua itu berjalan dengan jinjit?

Oh, itu karena dia sangat hati-hati. Ia khawatir menginjak semut jika berjalan dengan menapak. Ia takut sekali akan dosa karena membunuh semut, jawab masyarakat.

Wah, kalau begitu aku tahu siapa yang mencuri isi gudang raja. Antarkan aku kepada raja agar aku beritahukan kepadanya siapa pencuri isi gudangnya.

Masyarakat mengantarkannya kepada raja. Ia lantas mengatakan bahwa pencurinya adalah orang tua yang berjalan dengan menjinjit itu.

Raja bertanya, dari mana kamu tahu dia pencurinya? Apa buktinya?

Orang yang selalu menampakkan diri sebagai orang suci biasanya memiliki otak yang licik.

Setelah diadili, ternyata orang tua itu memang pencurinya.

Dia Lebih Kaya Dariku

Saat talk show, Bill Gates ditanya oleh hadirin: sekarang anda orang terkaya di dunia. Menurut anda, ada kah orang yang lebih kaya dari anda?

Bill Gates menjawab dengan satu cerita.

Suatu hari aku berada di bandara. Ada seorang bocah kulit hitam menjual koran. Aku tertarik membeli satu koran. Aku panggil dia. Aku ambil satu koran. Tapi ternyata aku tidak punya uang pecahan untuk membayarnya. Bocah itu lantas mengatakan bahwa koran itu gratis untuk aku. Ia tersenyum kepadaku dengan sangat ramah. Aku pun berterimakasih kepadanya.

Lain waktu, aku berada di bandara yang sama. Aku melihat bocah penjual koran itu lagi. Aku panggil untuk membeli korannya. Tapi lagi-lagi ternyata tidak uang pecahan di saku-ku. Dan lagi-lagi ia memberikan koran itu gratis kepada sambil tersenyum. Aku bertanya kepadanya: apakah kamu melakukan ini pada semua orang?

Ia menjawab: iya. Setiap orang kesusahan untuk membayar, aku menggratiskan koranku.

Mengapa kamu lakukan itu?

Aku merasa bahagia melakukannya. Setiap kali aku memberi bantuan pada orang yang membutuhkan, aku memberinya dengan hatiku.

Kalimatnya itu langsung terukir kuat dalam pikiranku.

Beberapa tahun kemudian, bisnisku semakin besar. Aku menjadi orang terkaya di dunia. Aku teringat kembali pada bocah penjual koran itu. Aku bentuk tim untuk mencari bocah itu.

Mereka mencari ke bandara tersebut, tapi ia sudah tidak ada. Setelah beberapa waktu pencarian, tim menemukan dia bekerja sebagai penjaga di satu gedung opera.

Tim memintanya untuk ikut ke kantorku. Setelah dia masuk ke ruang kerjaku, aku bertanya: kamu kenal aku?

Dia menjawab: tentu. Siapa yang tidak kenal seorang Bill Gates!

Aku masih terngiang dengan ucapanmu ketika kamu memberikan koran secara gratis kepadaku. Aku sangat terkesan atas kebaikan kamu. Kalau boleh tahu, apa alasan kamu melakukan itu?

Dia menjawab: tidak ada alasan khusus. Aku hanya merasa nyaman dan tenang setiap memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Sekali lagi, kalimatnya ini langsung terukir kuat dalam pikiranku.

Aku katakan, hari ini aku ingin membalas kebaikanmu itu. Katakan lah apa yang kamu butuhkan.

Tidak, Tuan. Aku tidak membutuhkan apa-apa darimu.

Katakan saja. Aku ingin membalas kebaikanmu itu kepadaku.

Tuan. Tuan tidak akan bisa membalas kebaikanku kepada Tuan. Aku memberi koran secara gratis kepada Tuan dalam kondisi aku miskin. Dan aku lakukan itu karena membuat hatiku nyaman dan damai.
Kali ini Tuan ingin membalas kebaikan itu dalam kondisi Tuan sebagai orang terkaya di dunia. Jadi tidak mungkin terbalaskan, Tuan.

Lagi-lagi kalimatnya itu menusuk relung batinku. Dia lah orang yang lebih kaya dari aku.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *