Laporan Hasil Survei Paling Lucu dalam Sejarah

  • Bagikan
Sumber: pexels-pixabay-265087

Oleh Muhammad AS Hikam*

Salah satu trick propaganda politik untuk membodohi publik yang dianggap daya kritisnya masih rendah, seperti di Indonesia, adalah dengan menyewa lembaga2 survei yg pintar, lucu dan menghibur, namun juga mesti culas dan ya, ekonomis dalam hal rasa malu.

Kalau cuma soal menampilkan hasil jajak pendapat yg bertentangan satu sama lain ttg elektabilitas dan popularitas capres, cawapres, dan parpol di negeri ini, saya kira publik sudah mulai biasa bahkan bosan. Publik berangsur-angsur familier, selektif dan teliti dg siapa sumber2 dan penghasil survei2 tsb. Kendati harus diakui bahwa media2 (utamanya medsos) masih suka dg laporan2 hasil survei yg sensasional atau kadang sulit diterima nalar karena kepentingan mengejar target jadi viral dan rating pemberitaan tinggi.

Tapi karena kompetisi antar para konsultan politik dan pasar hasil survei makin tajam, maka kini ada kebutuhan suatu “kreasi”, semacam content survei baru. Misalnya bukan saja content ttg elektabilitas dan popularitas, tetapi dimasukkan pula content tentang intelektualitas. Entah bagaimana indikator intelektualitas itu dibuat dan diukur menurut standar atau konvensi keilmuan apa, pokoknya content ini ternyata cukup bikin publik tersentak, selain lucu dan menghibur. Tapi tentu ia tak bisa dijadikan sebagai kriteria yg sahih dalam konteks uji calon pasangan capres-cawapres ini!

Maka itu ketika ada sebuah laporan oleh sebuah lembaga survei nasional yg punya nama besar, bhw menurut hasil jajak pendapat yg dilakukannya, level intelektualitas dari Prof. Mahfud MD, pasangan dr Ganjar Pranowo, dan Gus AMI, pasangan Anies Baswedan berada di bawah level intelektualitas Gibran Rakabuming, pasangan dr Prabowo Subianto, tak pelak publik pun dibuat terperangah!

Kekagetan publik dg laporan tsb bisa jadi tak akan lama dan diganti dg reaksi lain: Cuek, walaupun ada yg merasa lucu dan terhibur dgnya. Sebab surveyor ini adalah lembaga yg pernah juga memelopori usul utk perpanjangan sampai 3 kali masa jabatan presiden RI. Alasannya, waktu itu, konon untuk menghindari ancaman konflik dalam masyarakat akibat pembelahan sosial para pendukung pasangan capres yg bersaing, seperti dan lebih besar dari Pilpres 2019!

Seperti kita tahu usul dan argumen lembaga survei tsb ditolak publik dan isu perpanjangan masa jabatan presiden itu pun lantas tenggelam, kendati masih dicoba digulirkan oleh para pendukungnya lewat cara2 lain. Toh pihak surveyor ini tak kekurangan akal. Muncullah gagasan “kreatif” tentang content level intelektualitas tsb dalam sebuah produk survei terbarunya itu!

Apakah kedua isu tsb saling berkaitan? Bisa ya, bisa tidak. Silakan anda analisa sendiri.

Bagi saya, setidaknya publik patut mempertanyakan sampai di mana kapasitas “intelektual” lembaga dan pengelola survei tsb. Saya pribadi melihat survei ini cuma sensasional saja atau paling-paling sebuah pameran kelucuan saja.

Tapi di negeri yg tidak sedang bai-baik saja ini, apapun bisa saja terjadi dan, percaya atau tidak, ada saja pendukungnya, bukan? IMHO

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *