Raung (1)

  • Bagikan
Aqib Muhammad Kh

Raung (1)

Oleh: Aqib Muhammad Kh*

1//

Terik sinar itu benar-benar memanggang kulit, Bun. Juga keperkasaan para lelaki kemput yang mereka sambatkan di media. Tetapi lihatlah ibu yang usianya menggait senja itu —sambil menggendong anaknya duduk termangu melihat jalan raya. Di antara hiruk-pikuk, hilir-mudik para musafir yang terselubung cemas sampai tujuan, ia berharap sesekali ada seseorang menghampiri dagangannya. Aku pun berhenti. Ibu tersenyum. “Soto ayam dua, Bu,” pesanku.

Cekatan beliau menguleg, lalu menyodorkan pada kami dua mangkuk soto ayam. “Minumnya apa, Mas?”

“Susu putih dan susu cokelat,” jawabku.

Singkat cerita, saat kutanya berapa harganya, beliau menjawab “Sepuluh ribu, Mas.”

“Es nya gratis, Mas. Jumat berkah.”

Dalam batinku: “Yang ditakdirkan loman, dermawan, memang tak butuh kata ‘kaya’ untuk melakukannya.”

Dan kami pun melaju bersama deru knalpot sepeda dan bergumam lirih: “Terima kasih pelajarannya, Ibu.”

 

2//

Di depan emperan Alfamart, seorang kakek duduk. Lesu wajahnya, sayu tatapnya pada paving teras Alfamart yang sedang dipadati manusia. Kesemuanya berteduh dari hujan. Beliau diam di pojok paling kanan, berjarak beberapa langkah dari kerumunan. Aku mengamati. Dan setelah kesibukan para manusia telah usai, mereka kembali meneruskan perjalanan, beliau masih duduk. Manatap paving.

Sekitar beberapa menit setelah agak sepi, beliau bangkit sambil menenteng blangsi. Menghampiri setiap tempat sampah, satu per satu diamati. Tak ada banyak yang dapat dipungut. Beliau mendongak, kemudian menatapku sejenak. Kulihat, ia tersenyum sambil tangan kanannya berusaha memilah-milah sampah yang laku.

Dan batinku: “Bahkan pada saat sedemikian sulit, beliau itu masih sempat-sempatnya tersenyum, dengan begitu ikhlasnya, dengan begitu leganya. Senyum yang mengandung syukur.”

Lalu beliau mengaikat tali pada blangsinya dan memikulnya. Tampak olehku beliau merasa keberatan. Tapi lagi dan lagi, beliau masih tersenyum.

Lalu, apa yang membikin kau murung, wahai diri?

 

3//

Pulanglah, pulang, ketika ibumu kangen padamu. Sebab di antara sesuatu yang tak dapat kembali adalah bermesra dengan ibu. Maka jangan kau siksa ia dengan kerinduan.

Kau boleh saja sibuk, sesibuk-sibuknya, menyelesaikan pekerjaan kantor barangkali, atau mengerjakan deadline yang diberikan atasanmu, atau barangkali kau bos yang sibuk mengawasi karyawan-karyawanmu, tetapi pulanglah-pulang untuk sekadar mengobati kerinduan ibumu.

Sebab, nurani ibu jauh lebih jernih dari paling jernih nuranimu, juga doa-doanya tulus untuk kebaikanmu, murni untuk menjagamu dari segala marabahaya dan kepelikan, dan kepedihan, dan ketidakadilan nasib saat hidup benar-benar kau rasa kejam padamu. Apakah masih tega kau menyiksanya dengan kerinduan sedemikian menyakitkan? Wahai, yang benar-benar telah teduh hatinya dan tidak ada kerisauan tentang ekonominya, pulanglah, pulang, ketika ibumu menghendakimu pulang.

Sebab beliau hanya ingin melihatmu tersenyum saat di depannya. Beliau hanya ingin memelukmu dan tidak kehilanganmu. Toh, beliau sadar bahwa dunia bukan tempat yang abadi untuk melangsungkan pertemuan. Barangkali, di antara beberapa sebab ia menghendakimu pulang adalah untuk meredam amarah-nafsu tamak dan rakusmu mengejar sesuatu yang tak sama sekali ia membutuhkannya saat rindu dan kangen.

Sebab, sesal tak pernah datang di awal, ia adalah lorong panjang yang memaksa manusia memasukinya terus menerus sampai kemudian tak ada jalan keluar kecuali menangis. Betapa banyak mereka yang mempunyai banyak harta, tetapi menyesal sebab tak benar-benar membahagiakan ibu? Betapa banyak mereka yang sengaja tak menghubungi ibu untuk memberi banyak kejutan saat ia sukses nanti, tetapi justru kelewat batas sebab ibu telah hilang napas?

2 Desember, 2023, di lubuk hatimu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *