Fenomena Mbah Benu: Pentingnya Mendamaikan Nalar Irfani, Bayani dan Burhani.

  • Bagikan

Fenomena Mbah Benu: Pentingnya Mendamaikan Nalar Irfani, Bayani dan Burhani

Oleh: Aguk Irawan MN*

Mbah Benu: sebuah anti tesa. Imam Jemaah Aolia Gunungkidul yang punya nama lengkap Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo masih menjadi perbincangan. Bagaimana tidak? Ia berani mengumumkan dan memimpin jemaahnya melakukan Salat Idul fitri lebih awal pada Jumat (5/4/2024) atas dasar telah “menelpon gusti Allah” secara langsung. Penetapan lebih awal ini jauh dari ketentuan oleh Pemerintah yang kemungkinan baru tanggal 10 atau 11 April 2024 mendatang.

Esok harinya, Mbah Benu memberi klarifikasi apa yang dimaksud dengan menelpon kepada Gusti Allah itu tidak lain adalah kontak batin. Dalam bahasa agama, kontak batin kepada Allah itu adalah pengalaman spiritual yang biasa disebut ilham atau dalam bahasa Abid al-Jabiri adalah irfani, dan yang menjadi masalah, menggunakan metode ilham-irfani untuk mengetahui kapan dimulai puasa Ramadlan dan kapan harus mengakhirinya (idul fitri) itu yang tidak ada dalam petunjuk al-Qur’an maupun hadis Nabi.

Cari Sekolah Jurnalistik Keren di Pesantren?

Maka nalar Mbah Benu terbentur dua dinding yang amat kokoh, yang oleh Abid al-Jabiri diistilahkan tembok bayani dan burhani. Tembok pertama adalah bayani (teks-doktrinal), karena untuk menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri hanya mengenal metode hisab dan rukyat. Karena itu penggunaan ilham dianggap menyalahi atau bertentangan dengan petunjuk syariat. Sebagaimana sabda Nabi:

من احدث فى امرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Tembok kedua adalah burhani (logika/filsafat). Menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan ilham berarti mengabaikan metode fiqh. Mengabaikan fiqh berarti mengabaikan kaidah ushul dan mengabaikan kaidah ushul fiqh berarti mengabaikan logika (filsafat), terutama mengabaikan epistemologi dan metodologinya, seperti yang terdapat pada konsep maslahah ammah, mashlahah al-mursalah, maqasid al-syariah, al-adah dan lain sebagainya. Karena semua memakai pola penalaran, dan pembuktian logika atas realitas.

Maka, tak berlebihan jika Mbah Benu dianggap telah “kebablasan”, bahkan dianggap sesat dan menyesatkan. Terutama telah menabrak teks dan logika, serta doktrinal yang mu’tamad:

الرؤيا أو الإلهام ليس دليلا شرعيا إلا للاستئناس لا للاستئناف

(Pengalaman batin atau ilham tidak bisa dijadikan dalil syar’i, kecuali hanya untuk perbandingan saja bukan untuk pedoman).

Fenomena Mbah Benu mengingatkan diskursus lama islam yaitu fiqh versus tasawuf. Karena pernyataan Mbah Benu sebenarnya proposisinya tidak bisa diukur dengan timbangan teks (bayani) dan logika (burhani). Ia ibarat Sang Sufi yang ekstasi. Pikiran dan psikisnya berada dalam kondisi nous, an-logika dan an-realita.

Mungkin pernyataan Mbah Benu yang “menelpon Gusti Allah” itu bisa dikatagorikan semacam pernyataan Rabiah Adawiyah yang membawa obor pada siang hari ke Pasar dan berkata: “Surga dan neraka akan saya bakar, jika kalian semua beribadah hanya ingin surga dan takut neraka saja, tapi tidak tunduk dan cinta kepada Allah.”

Selain Rabiah kita mengenal guru-guru sufi yang pernyataan atau sebagian perkataannya tampak kontroversial yaitu Abu Yazid, Al-Hallaj, sebagian tulisan Imam Al-Ghazali, Ibnul Arabi, Abdul Karim Al-Jili, Rumi, Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Syekh Samman, Syekh Mutamakkin, atau orang-orang saleh lainnya.

Beberapa kalimat ini mungkin menjadi masalah, yaitu “subhâni”, “anal haq”, “mâ fil jubbah illallâh”. Pernyataan Mbah Benu juga bersifat alegoris. Pilihan diksi pada pernyataannya mengarah kepada dunia batin yang subyektif dan sublim.

Karena itu berangkat dari pengalaman yang seperti itu, –terutama di dunia Arab– Muhammad Abid al-Jabiri melalui Bunyah al-’Aql al-’Arabi mencari solusi atas diskursus bayani versus irfani bahkan burhani yang terjadi di dunia Islam. Secara singkat al-Jabiri mencoba merumuskan kerangka teoritik dari tiga masalah umat sekaligus.

Pertama, kecenderungan sebagain muslim yang sufistik dan mereduksi segala sesuatu menjadi “mistis”, dan terlepas dari dunia nyata (realitas). Kedua, tendensi logis-filosofis yang mereduksi semuanya harus masuk akal. Disini logika sebanding dengan teks. Ketiga, tendensi hukum yang mereduksi segalanya harus selaras dengan teks, baik hitam ataupun putih.

Berangkat dari masalah tersebut, al-Jabiri menawarkan metode epistemologi bayani, irfani dan burhani untuk merekonstruksi nalar, terutama nalar orang Arab. Seyogianya ketiga pendekatan tersebut tidak dibiarkan berjalan paralel atau berjalan sendiri-sendiri. Tetapi Ketiganya harus dijalin berkelindan dan mencari tali sintesa agar lebih fungsional di tengah-tengah masyarakat.

Jadi menurut hemat kami, sebagai insan akademis, kita sebaiknya tidak perlu mengambil posisi menghakimi atau mendukung atas pernyataan kontroversial dari pengalaman batin seseorang. Lain halnya jika itu untuk kepentingan kenyamanan masyarakat dan bebas dari kegaduhan. Maka tindakan pemerintah yang bijaklah yang kita tunggu demi kemaslahatan bersama.

Apapun itu, sebaiknya kita menghormati mereka sebagai guru spiritual, seperti Mbah Benu atau sebagai manusia dengan penjelajahan luar biasa dalam “menemukan” Allah sang pencipta. Bukankah ini yang dirindukan oleh setiap kita yang mengaku mukmin? Yaitu menunjukkan rasa rindu dan cinta kita terhadap Zat hakiki. Wallahu’alam bishawab.

Gua Kidul-Cirebon, 27 Ramadhan, 1445 H.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *